Suka Cerita Sex Desah Mba Rafa | Suka Sex
agen bandarq online
Home / Cerita Sex Tante / Suka Cerita Sex Desah Mba Rafa

Suka Cerita Sex Desah Mba Rafa

www.sukasex.com adalah web Khusus Dewasa Yg mengulas Cerita Sex Hot Terbaru, Cerita Sex Mesum, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Janda, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Mahasiswi, Selingkuh, Cerita Sex Horny, Cerita Sex Memek Perawan 18+. Perkenalkan namaku Ariel beberapa minggu yng lalu aku juga sudah pernah mengirimkan cerita di web ini, dan aku pasang alamat emailku, setelah itu setiap harinya aku selalu dapat pesan masuk dari email. Ada salah satu yang mengirim email kepadaku yang rupanya membuat aku tertarik sebut saja namanya Rafa dia sudah berumur 50tahunan, kalau chating aku manggilnya Mba Rafa.

Suka Cerita Sex Desah Mba Rafa

cerita sex tante 2017, cerita hot tante 2017, cerita tante hot 2017, cerita hot tante tante 2017, kumpulan cerita tante hot 2017, cerita x tante 2017, cerita tante tante hot 2017, cerita sesk tante 2017, cerita hot tante montok 2017, cerita hot tante muda 2017, kumpulan cerita hot tante 2017, cerita tante haus 2017, cerita ml tante tante 2017, cerita hot tante cantik 2017

Dari itu kami nyambung dari ngobrolnya, setelah beberapa topik, kami langusung bertukar nomer HP, aku mulai mengulik kehidupan Mba Rafa ternyata dia bersuami yang mana suaminya bekerja seringnya di malam hari, maka dari itu selepas suaminya bekerja aku berani untuk sms atau emai dengan Mba Rafa.

Biasanya aku hubungi Mba Rafa diatas jam 8 malam, suamina bekerja di salah satu perusahaan yang terkenal dimana diletakkan dibagian IT internasional , dia bekerja di malam hari karena mengikuti prosedur kantor pusat yang berada di Inggris.

Kalau Mba Rafa bekerjanya dari pagi sampai sore hari, dia bekerja di perusahaan pelayaran, untuk gajinya juga bisa dibilang cukup karena dari foto foto dan asesorisnya juga bermerk, dimana mba Rafa jika bercerita kalau aku bertemu suami hanya 1- 2 jam saja, karena jam pekerjaan yang berbeda, Mba Rafa sudah ememilik anak yang saat ini berkuliah di Bnadung.

Lhah disinilah mba Rafa sering tidur sendirian, dan kalau pagi jika bangun suaminya belum sampai rumah, sedangkan Mb Rafa harus berangkat kerja itulah keseharian mba Rafa jika bercerita tentang keluarganya, karena mba Rafa sering sendirian maka dari itu dia sering keluar dengan teman temannya, kadang maen ke mall, atau makan di sebuah restoran.

Mba Rafa orangnya kocak dia sering bercanda lewat telpon , jadi jika berteleponan sama Mba Rafa jadi gemas sendiri mendengar perkataan yang lucu lucu, aku hanya bisa tertawa saja mendengar cerita mba Rafa, setelah berkali kali telepon kami sepakat untuk bertemu dan diminta untuk bertemu di rumah mba Rafa.
Aku juga ingin bertemu dengan mba Rafa, candaku.

Kalau beretemu di amall banyak orang , jadi gak konsen untuk kita ngobrol pinta mba Rafa.

Aku sih ngikut mba Rafa aja mau ketemu dimana saja juga oke hehe..

Aku kesana saat hari kerja dimana sudah diatur oleh mba Rafa agar tidak mengganggu waktu dengan suaminya, jika maen di hari weekend pastinya waktunya untuk suami,

Hari itu sudah dipastikan dan mba Rafa menelponku untuk menunggu sebentar karena mau pulang kerumah, akuy juga yang habis kerja langsung pulang kerumah dahulu untuk mandi dan makan sambil menunggu balasan dari Mba Rafa jika sudah sampai dirumah.

Waktu sudah diangka jam 9 malam aku sudah mendapat kabar dari mba Rafa kalau dia sudah dirumah, aku langsung menuju kesana dengan memakai taksi, tibanya dirumahnya aku langsung telepon mba Rafa.

Hallo mba aku sudah ditempat yang di ancer ancer mba, mba Rafa bisa keluar gak , soalnya aku bingung rumah mana yang aku tuju.

Bentar aril kamu kalau sdauh di gang tinggal hitung 6 rumah lha disitu rumah aku yang catnya warnanya abu abu.

Setelah menemukan rumahnya mba Rafa aku langsung turun dari taksi dan memncet bel dekat pagarnya, dan wanita itu mengahampiriku dengan senyuman , sampai jug aril , ternyat dia mba Rafa, akupun juga membalsa senyumannya.

Gimana susah ya mencari rumahku ril,

Gak juga mba masih ada yang ditelepon jadi tenang sambil masuk ke dalam rumahnya.

Aku perhatikan hmmm wanita ini sudah STW tapi kulitnya terawatt halus putih mulus, saat itu Mba Rafa menggunakan daster

Kulit kuning langsatnya yang mulus terasa halus sekali ketika secara tak sengaja lengan kami bersentuhan. Rambut hitam lebatnya yang keriting dibiarkan panjang sepunggung dan masih dalam keadaan basah. Kelihatannya Mbak Rafa baru selesai mandi. Aroma sabun dan shampoo juga masih tercium dari tubuhnya.

“Heh, bengong.. yuk masuk” ajakan Mbak Rafa mengejutkanku.

“Eh.. iya Mbak” jawabku. Aku mengikuti Mbak Rafa yang berjalan masuk ke dalam rumah.

Di dalam ternyata Mbak Rafa sudah menyiapkan makan malam untukku.

“Aduh Mbak repot-repot deh” kataku ketika Mbak Rafa mengajakku makan.

“Ah kamu nggak usah basa-basi deh” ujar Mbak Rafa seraya menyendokkan nasi untukku. Aku berusaha mencegah.

“Mbak.. Mbak.. aku tadi di rumah udah makan” cegahku sambil menyentuh pergelangan tangan Mbak Rafa.

Aduh halusnya.. Wanita berwajah lembut itu pura-pura cemberut.

“Gitu deh.. kamu nggak hargain aku ya” serunya sambil merajuk.

Aku tersenyum. Gila nih orang udah kepala lima mukanya masih cute aja, pikirku dalam hati.

“Iya deh, tapi jangan banyak-banyak ya” jawabku.

Mbak Rafa pun tersenyum sambil mengangguk. Kami pun makan malam berdua sambil cerita-cerita dan cekakakan. Mbak Rafa antusias sekali membahas pengalaman yang kuceritakan di situs ini.

“Gila , trus tuh ABG pada kemana sekarang?” tanya Mbak Rafa di sela-sela ceritaku.

“Masih ada Mbak, cuma udah jarang contact.. apalagi mereka nggak di sini kan” ceritaku.

Tanpa terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Aku membantu Mbak Rafa membereskan meja bekas kami makan. Kemudian wanita itu menyuruhku menunggu di ruang TV sementara dia mencuci piring.

Tak lama kemudian Mbak Rafa ikut ke ruang TV dan duduk di sofa di sebelahku. Wanita itu merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hmm.. lengannya terasa hangat dan mulus. Kemudian Mbak Rafa melipat kakinya ke atas sofa.

“Udah nyucinya Mbak?” tanyaku basa-basi. Wanita itu tersenyum sambil mengangguk.

“Kok nggak pake pembantu sih?” tanyaku lagi.

“Nggak, males Yo.. pembantu sekarang jarang yang beres. Apalagi kalau malam begini aku sering di rumah sendirian. Takut ada apa-apa” jelasnya. Bibirku membentuk bulatan kecil.

“Ya cari pembantunya yang cewek dong Mbak” timpalku.

“Kalo dia punya pacar gimana? Trus kalo pacarnya macem-macem gimana? Hayoo.. hihihi” Mbak Rafaa menjelaskan sambil mencubit hidungku gemas.

Aku membalasnya. Kemudian aku sengaja menatap wanita itu lama-lama hingga yang ditatap menjadi salah tingkah.

“Ih.. genit liat-liat” serunya.

Aku tersenyum sambil memberanikan diri merangkul pundaknya.

“Mbak Rafa sexy deh” bisikku di telinga wanita itu.

Mbak Rafa tertawa manja. Kemudian wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat sekali, sehingga bibir kami hanya berjarak kurang dari satu centimeter.

“Terus kalo sexy kenapa sayang?” desahnya tepat di wajahku.

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung melumat bibirnya yang lembut. Hmm.. nikmat sekali. Mbak Rafa tampak menikmati ciuman dan hisapanku. Lidahku pun menari dengan lincah, masuk ke dalam mulut Mbak Rafa dan menjelajahi rongga mulutnya.

“mmhh.. ssllpp.. mm.. sshh” Mbak Rafa seolah tak mau kalah denganku.

Lidahnya ikut menari mengimbangi lidahku. Nafsu birahi yang mulai naik menuntun tangan wanita itu untuk merengkuh kedua pipiku. hh.. lembut sekali telapak tangannya.

Tanganku pun mulai menjelajahi lengan Mbak Rafa yang halus. Perlahan-lahan kuusap lengan dan bahunya. Mbak Rafa yang semakin terangsang mendorongku jatuh ke sofa tanpa melepaskan ciumannya. Aku mengikuti saja.

Dalam sekejap tubuh montoknya telah menindih tubuhku di atas sofa. Penisku mulai tegang. Aku mencoba merentangkan kedua kakiku agar penisku bisa berada pada posisi yang benar di balik celanaku. Bibir Mbak Rafa sudah tak hanya menjelajahi bibirku, tapi juga mulai menjalar ke bagian pipi, leher dan dadaku.

Perlahan jemarinya yang lentik mencopoti kancing kemejaku satu per satu. Upss.. ternyata tidak semua, Mbak Rafa hanya melepas tiga kancing di atas. Kemudian kedua tangannya melebarkan celah kemejaku dan.. aahh.. Wanita itu menjilati dadaku dengan penuh nafsu.

Kedua tanganku merengkuh rambut keritingnya yang tergerai. Perlahan tanganku mengusapi punggung dan lengan Mbak Rafa. Tanpa mempedulikan birahiku yang semakin naik, Mbak Rafa terus menjilati dadaku. Bahkan sekarang seluruh kancing kemejaku telah copot. Wanita itu menjilati perutku dengan liar.

“sshh.. Mbbakk” desahku.

Mbak Rafa menghentikan aktivitasnya sejenak. Wanita itu memandangku sambil tersenyum.

“Kenapa sayang?” desahnya. Aku tersenyum.

“Nggak pa-pa, enak banget Mbak” jawabku. Kemudian aku mengangkat tubuh montok itu hingga berdiri tegak, dan kini giliranku yang aktif. Kupeluk tubuh montok Mbak Rafa dan kujilati leher dan pundaknya. Wanita ini hanya tertawa-tawa kecil seperti meremehkan ‘seranganku’.

Kedua tangannya membelai kepalaku dengan lembut, dan akhirnya bergerak melepaskan kemejaku. Kini aku telah bertelanjang dada.

“Sini sayang.. sshh.. oohh” Mbak Rafa memeluk tubuhku erat-erat sehingga dadaku dapat merasakan kenyalnya payudara wanita itu.

Aku tidak lantas diam, lidahku terus menari menjelajahi leher dan tengkuk Mbak Rafa. Wanita itu mulai merasa keasyikan. Aku pun meneruskan dengan menjilati bagian belakang telinganya, lantas mengulum dan melumat telinganya yang putih bersih.

“sshh.. Aril.. hh” tubuh Mbak Rafa menggelinjang menahan rasa nikmat.

Aku tak peduli, lidahku terus menjalar ke bahu, dan akhirnya aku mencoba menurunkan tali daster yang tersangkut di bahu Mbak Rafa dengan mulutku.

Kedua tali daster itu sudah turun dan aku pun bisa melihat putihnya dada Mbak Rafa. Aku baru sadar kalau sejak tadi wanita ini tidak mengenakan bra. Aku pun menjadi gemas dan mulai meremas kedua payudaranya yang montok namun sudah agak turun.

Mbak Rafa merebahkan tubuhnya di atas sofa agar bisa lebih menikmati remasanku. Sementara itu kedua tangan Mbak Rafa kembali merengkuh kepalaku untuk mengajak berciuman. aahh.. lagi-lagi aku merasakan kehangatan bibirnya. mmhh.. nikmat sekali.

Birahiku semakin naik. Tanganku pun berpindah ke lengannya untuk menurunkan seluruh tali dasternya. Sekarang daster itu sudah turun sampai ke pinggang. Uuhh.. aku bisa melihat dada Mbak Rafa yang putih bersih. Kedua tanganku meremas payudara yang kenyal itu dan kujilati putingnya.

“Sshh.. ohh.. Rio.. sshh” Mbak Rafa mendesah menahan rasa nikmat.

Aku tak peduli. Lidahku terus menjelajahi puting dan payudaranya secara bergantian. Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. sementara kedua tanganku tak henti-henti meremasnya.

“Sshh.. Aril” tiba-tiba Mbak Rafa bangkit dan memeluk tubuhku erat sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel ketat di dadaku. Nikmat sekali. Mbak Rafa mendesah panjang sambil membenamkan wajahnya di bahuku. Aku mengangkat kepala wanita itu dari bahuku.

“Kenapa Mbak?” tanyaku setengah berbisik.

Mbak Rafa tersenyum agak tersipu, lantas menggeleng. Kedua tangannya yang lembut membelai pipiku.

“Nggak pa-pa.. Yo” desahnya.

Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu. Aku langsung menyimpulkan bahwa wanita di hadapanku ini baru saja melepas orgasmenya. Aku tersenyum sambil mencubit payudara Mbak Rafa.

“Udah keluar ya Mbak?” bisikku setengah menggoda.

Mbak Rafa tersenyum geli sambil mengangguk. Aku pun tertawa. Wanita itu malah mencubit pinggangku.

“Ketawa lagi.. awas ya kamu, ntar aku bikin kelojotan baru tau rasa.. hihihihi”

Mbak Rafa langsung mendorong tubuhku hingga jatuh di sofa lagi. Kemudian dengan liar wanita itu mencoba melepas ritsleting celanaku. Tak diperdulikannya daster yang sudah mawut-mawut di tubuhnya itu. Aku membiarkan Mbak Rafa menelanjangiku. Dan tak lama kemudian tubuhku sudah lolos tanpa busana.

Mbak Rafa tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang. Digelitiknya daerah sensitifku dengan rambutnya yang panjang. Hmm.. geli-geli enak. Mbak Rafa kemudian meneteskan air ludahnya ke atas kepala penisku. aahh.. aku merasakan enak ketika air ludah itu menyentuh lubang kencingku. hh.. tubuhku sedikit bergidik.

Dengan jemari lentiknya, Mbak Rafa meratakan air ludah yang membasahi penisku. Dengan lembut wanita itu mengusap seluruh permukaan penisku yang sudah licin. hhmm.. nikmat sekali. Kelima jemari lentiknya mengusap dan menjepit pangkal penisku, dan.. ahh.. Mbak Rafa mulai menjilati kepala penisku yang sudah basah.

Lembut sekali lidah wanita ini. Sementara tangan Mbak Rafa mengocok bagian pangkal penisku, lidahnya lincah menjelajahi kepala dan leher penisku. Dijelajahinya seluruh daerah sensitifku. Dan sebagai ibu-ibu yang sudah lama menikah, Mbak Rafa lihai sekali mencari titik-titik rangsangku. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat.

Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Mbak Rafa naik-turun mengikuti irama kenikmatan yang diberikan padaku. Sebelah tangannya yang sejak tadi diam saja kini merayapi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Mbak Rafa yang lebat. Wanita itu bagai tak peduli terus menjilat, mengulum dan mengisap batang penisku.

Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Mbak Rafa naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang menyala-nyala. Aku meloloskan daster yang masih menyangkut di pinggangnya. aahh.. gila, ternyata Mbak Rafa juga tidak mengenakan celana dalam sejak tadi.

Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Mbak Rafa duduk di atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang Mbak Rafa yang dihiasi sedikit lemak itu.
“Sekarang Yo?” desahnya.

Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian secara mengejutkan aku memutar posisi hingga Mbak Rafa kini yang duduk di sofa. Wanita itu sempat menjerit sesaat. Detik berikutnya dengan buas aku mengangkat sebelah paha Mbak Rafa yang mulus ke atas sandaran sofa.

Aku memperhatikan vagina Mbak Rafa yang ditumbuhi bulu lebat sekali. Hmm.. terus terang bagiku kurang nikmat menjilati vagina wanita yang ditumbuhi bulu yang lebat.

“Mbak bulunya banyak banget” seruku. Mbak Rafa mengangguk.

“Iya, nggak pernah dicukur. Aku nggak berani” jawabnya. Aku tersenyum penuh arti.

“Aku cukurin ya Mbak” pintaku. Mbak Rafa terlihat terkejut.

“Hah.. terus gimana?” tanyanya setengah bingung.

“Ya nggak gimana-gimana hihihi.. Mbak ada cukuran?” tanyaku.

Tanpa diminta dua kali Mbak Rafa bangkit menuju kamar tidurnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah alat cukur manual.

“Oke.. aku cukur ya, mau model apa Mbak? Hihihihi” godaku.

“Apa aja deh, abis juga boleh hihihi” jawab Mbak Rafa.

Aku pun mulai beraksi. Kucukuri seluruh bulu yang tumbuh di daerah kemaluan Mbak Rafa sampai bersih, diiringi desahan-desahan manja si pemilik bulu.

“Udah Mbak” seruku. Mbak Rafa melongok ke bawah.

“Hihihi.. botak abis, aku cuci dulu ya”

Mbak Rafa pun ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulunya. Tak lama wanita itu kembali ke ruang TV.

“Taraa” serunya menirukan suara terompet sambil merentangkan kedua tangannya. Aku tertawa melihat gayanya.

“Waahh.. mulus abiss” seruku.

Dengan gemas Mbak Rafa menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku pun memutar tubuh hingga Mbak Rafa kembali duduk di sofa. Seperti tadi aku mengangkat paha Mbak Rafa dan kudekatkan wajahku ke arah vaginanya.

Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati sekeliling vagina dan selangkangan Mbak Rafa sebelum akhirnya aku bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat.

“sshh.. Aril.. aahh” Mbak Rafa menggelinjang menahan nikmat.

Lidahku semakin liar menjelajahi vagina Mbak Rafa. Jemariku pun ikut membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris Mbak Rafa. Tubuh Mbak Rafa terus menggelinjang tak karuan. Nafasnya tidak teratur. Desahan-desahan menahan nafsu terus keluar dari bibirnya.

“Aril.. sshh” desahan panjang Mbak Rafa kembali terdengar.

Bersamaan dengan itu dari vagina yang tengah kujilati pun keluar cairan kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot dinding vagina Mbak Rafa. Tubuh Mbak Rafa sampai terlonjak.

“sshh.. cukup sayang.. sekarang kasih yang aslinya dong” pinta Mbak Rafa seraya mengangkat tubuhku.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Perlahan aku mulai mengarahkan batang penisku ke vagina Mbak Rafa. Pelan-pelan kumasukkan sedikit demi sedikit. Dan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam hangatnya vagina Mbak Rafa. Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Mbak Rafa.

“Oohh.. oohh.. sshh.. aahh” desahan dan erangan kami saling bersahutan.

Kami betul-betul menikmati permainan. Vagina Mbak Rafa terasa hangat sekali mengulum penisku. Kedua tangan kami saling berpegangan. Kira-kira lima belas menit kemudian aku mulai merasa dinding vagina Mbak Rafa berdenyut dan cengramannya semakin kencang.

Desahan Mbak Rafa pun semakin liar. Tak lama kemudian aku merasakan ada cairan yang membanjiri penisku dari dalam vagina Mbak Rafa. aahh.. wanita itu orgasme lagi. Kulihat Mbak Rafa tersenyum simpul.

Kemudian kami berganti posisi. Mbak Rafa nungging di sofa sambil berpegang pada sandaran, dan sambil berdiri kembali kutembus liang kenikmatan wanita itu dengan penisku. Uuuhh.. kedua tanganku memegangi pinggul Mbak Rafa yang ikut maju-mundur karena goyanganku. Kuusap pantat Mbak Rafa yang halus dan mulus.

Bosan dengan posisi tersebut, kami berganti lagi. Kali ini aku duduk di sofa dan Mbak Rafa duduk di atas tubuhku. Hmm.. hangat sekali tubuhnya. Mbak Rafa cukup lihai memimpin permainan. Pinggulnya tak hanya maju-mundur tapi juga memutar sehingga memberi sensasi nikmat yang luar biasa pada penisku.

Aku memeluk tubuh montok Mbak Rafa erat-erat hingga payudara wanita itu menempel di wajahku. Huuff.. lidahku segera menjulur keluar untuk menikmati kenyalnya puting susu Mbak Rafa. Sesekali kugigit dengan pelan. Wanita itu berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmatnya.

Setelah beberapa menit aku mulai merasa spermaku akan muntah dari penisku.

“aahh.. ahh.. Mbak.. udah mau nyampe nih” desahku.

Mbak Rafa tersenyum sambil terus mendekap kepalaku.

“sshh.. iya.. aku juga nih, tungguin yaa” desah Mbak Rafa seraya mencium bibirku.

Ugghh.. lumatan bibir Mbak Rafa membuatku semakin tak kuasa menahan kendali. Kucengkeram pinggang Mbak Rafa yang tengah bergoyang hebat agar wanita itu berhenti bergoyang.

“sshh.. kenapa sayang?” tanya Mbak Rafa. Aku tersenyum.

“Nggak pa-pa, nunda sebentar Mbak.. hihihi” jawabku. Mbak Rafa mencubit dadaku gemas.

“Dasar ya” desahnya manja. Wanita itu memeluk tubuhku erat. aahh.. hangat sekali tubuhnya.

“Terusin Mbak” bisikku sambil menjilati telinganya.

Tubuh Mbak Rafa kembali bergoyang. aahh.. betul-betul nikmat. Gairahku semakin memuncak, dan aku juga mulai merasa dinding vagina Mbak Rafa berdenyut.

“Aril.. bareng ya.. keluarin di dalam aja” desah Mbak Rafa.

Aku mengangguk. Mbak Rafa semakin mempercepat goyangannya. Aku pun membantu dengan menggoyangkan pinggangku. aahh.. ahh.. penisku semakin cepat keluar masuk vagina Mbak Rafa, dan.. Croott.. crott.. crroott.. croott.. ccrroott.. ccroott.. Entah berapa kali penisku menyemprotkan cairan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Mbak Rafa.

“aawww.. kamu duluan ya sayang.. hihihihi” desah Mbak Rafa.

Aku tersenyum kecut seraya memeluk tubuh Mbak Rafa. Dengan sisa-sisa yang ada aku mencoba menggenjot tubuhku untuk membuat Mbak Rafa mencapai puncak. Dan..

“aahh.. sshh.. Aril” Mbak Rafa kembali mengeluarkan desahan panjang seiring membanjirnya vagina wanita itu.

Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan. Penisku masih tertancap di dalam vagina Mbak Rafa.
“sshh.. makasih ya sayang, aku udah lama banget nggak ngerasa kayak gini” desah Mbak Rafa di sela-sela kecupan bibirnya.

“Iya.. makasih juga untuk pengalamannya Mbak hihihi” jawabku.

Mbak Rafa memelukku dengan gemas dan melumat bibirku habis-habisan. Malam itu akhirnya aku menginap di rumah Mbak Rafa. Aku tidak ingat berapa kali kami memacu birahi bersama. Hampir setiap sudut rumah itu kami pakai.

Di ruang TV, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan juga dapur. Yang kuingat kami tertidur di ranjang Mbak Rafa sekitar jam 3 pagi. Kemudian Mbak Rafa membangunkanku jam 7 pagi. Kulihat wanita itu sudah segar kembali lengkap dengan pakaian kantornya.

“Mandi dulu sayang.. kamu juga kan mesti ke kantor” desah Mbak Rafa seraya membangunkanku.

Aku harus kembali ke rumah dulu sebelum ke kantor karena aku tidak membawa baju. Setelah mandi, aku berangkat bareng Mbak Rafa dengan taksi yang dipesannya ke rumah. Oke, sampai di sini dulu pengalamanku dengan Mbak Rafa. Aku belum tau bagaimana selanjutnya hubungan kami. Yang jelas kami masih sering SMS-an dan telepon. Tunggu saja cerita selanjutnya.

Cerita sex sahabat, foto hot terbaru, foto hot Jilbab terbaru, foto hot tante terbaru, foto sex mahasiswi, cerita sex terbaru, cerita sex three some, Cerita Sex Perawan, cerita sex pembantu nakal, cerita sex ngentot, cerita sex ABG, cerita sex Jilbab, kumpulan cerita sex perkosaan, cerita sex Janda, cerita sex Guru, cerita sex Lesbi, cerita sex Hamil, cerita sex pembantu, cerita sex Pelajar, cerita sex setengah baya, cerita sex dosen, cerita sex SMP, cerita sex pramugari, cerita sex Bertukar pasangan, Cerita Sex Suster Sange, Cerita Sex Pacar Sange, Cerita Sex Pasangan Gay