Suka Cerita Sex Kembali Mendesah

>
Web Khusus Dewasa Yg Berisakan Cerita Sex Hot Terbaru, Mesum, ABG, Ngetart, Tante, Janda, Sedarah, Mahasiswi, Selingkuh, Horny, Memek Perawan 18+. Kali ini aku masuk ke kelas tiga dengan nilai yang tidak cukup memuaskan yang penting cukuplah, beda dengan temanku Rania dia mendapat ranking 3 di kelas sedangkan adiknya Rania yang namanya Sekar masuk kelas 2 SD itu yang membuat kedua orangtuanya bangga terhadap anaknya.

Suka Cerita Sex Kembali Mendesah

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

"Sekar, Rania, papa dan mama sangat bangga pada kalian yang rajin belajar selama ini, untuk itu papa akan mengajak kalian berlibur ke Bali!" kata Pak Sis yang disambut dengan sorakan kebahagiaan oleh Sekar dan Rania.

"Si abang juga harus ikut ya Pa!" kata ibu Sis kepadaku yang langsung ditimpali oleh Pak Sis, "Iya, kamu juga harus ikut karena kata ibu, selama ini kamulah yang selalu membantu Sekar dan Rania dalam belajar, jadi kamu juga pantas mendapatkan hadiah!"

"Maaf Pak, Bu, kelihatannya saya tidak bisa ikut kali ini karena saya harus ke Jakarta berkumpul bersama keluarga, saya sudah kangen untuk bertemu ayah ibu serta adik-adik" Jawabku.

"Iya ya Pa, si abang ini khan sudah lama bersama keluarga kita, jadi dia pasti ingin berkumpul dengan keluarganya selama liburan ini." Kata Ibu Sis.

"Baiklah kalau begitu, sampaikan salam kami kepada orang tuamu ya!" Kata Pak Sis.

"Baik Pak!" jawabku.

Akhirnya, aku pun bisa berkumpul kembali dan menikmati masa liburan yang menyenangkan bersama keluargaku. Selama berlibur, kadang-kadang aku teringat masa indah bersama Rania, di mana aku selalu memberinya kenikmatan oral seks sampai tubuh kecil itu menggelinjang-gelinjang tak karuan kala getar orgasme yang dahsyat melanda dirinya.

Selama itu pun aku tidak pernah menagih janji Rania untuk mengajak adiknya agar mau kuberikan pelajaran "os" ku. Sesekarp ada kesempatan yang menurutnya "aman" ia pasti memintaku untuk "memberinya", dan tentu saja selalu kuturuti karena aku juga sangat menikmatinya.

Semakin hari permintaannya semakin sering, mungkin seiring dengan bertambah dewasanya Rania dan hormon-hormon tubuhnya pun mulai aktif mengakibatkan nafsunya pun meningkat sampai-sampai terkadang aku harus menolaknya karena menurutku keadaan di rumah sedang "belum-aman".

Selain memberinya "os", aku juga sering mengajaknya menonton film yang bertema blowjob dan cumshots sambil memberinya semacam pengersekarn. Aku sangat berharap bahwa suatu hari nanti Rania dengan kesadarannya sendiri, tanpa paksaan mau mengkaraoke milikku.

Reaksi Rania ketika menonton film-film tadi sebenarnya biasa-biasa saja karena memang ia telah sering kali kuperlihatkan adegan seperti itu, tetapi reaksinya berubah ketika suatu hari aku memperlihatkan kepadanya film bukkake jepang yang kupinjam dari temanku yang memang anak orang kaya itu.

Aku berani mengajaknya nonton malam itu karena bapak dan ibu Sis sedang menginap di luar kota sedangkan si Was, pembantu, sudah tidur di kamar belakang. Biasanya ketika menonton film blowjob dan cumshots,

Rania masih bisa bersenda gurau denganku sambil menggelitiki pinggangku dengan jarinya yang nakal secara tiba-tiba di tengah adegan yang sedang seru sehingga suasana pun berubah jadi canda dan tawa yang sering pula kuakhiri dengan memberinya "os".

Kali ini Rania tampak terlihat serius, ia bertanya mengapa banyak sekali laki-lakinya yang hanya mengenakan celana dalam saja sedangkan perempuannya hanya satu dengan berpakaian semacam jas hujan yang tipis di ruangan yang besar itu.

Aku pun segera menjelaskan bahwa tidak perlu khawatir, perempuan itu tidak akan disakiti, lalu kudekap dia dari samping sambil menemaninya menonton.

Kali ini tidak ada canda dan tawa karena Rania terlihat sangat serius, ia sangat ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap wanita tadi. Aku tersenyum kagum melihat rasa keingintahuan yang sangat besar dari gadis kecil yang cantik ini, sambil masih kudekap kubelai lembut kedua lengannya.

Terlihat di layar kaca, para pria melakukan onani dan mengeluarkan spermanya di dalam sebuah gelas besar yang sekarang mulai terisi setengahnya, sementara wanita satu-satunya dalam ruangan tadi juga tengah sibuk memberikan blowjob kepada beberapa pria lain yang tempatnya agak jauh dari gelas besar tadi.

Aku melihat raut kebingungan pada wajah Rania mengenai apa sebenarnya yang sedang ia tonton, tetapi ia berusaha untuk tidak bertanya kepadaku seolah-olah ia ingin menemukan sendiri jawaban dari kebingungannya.

Rania terlihat takjub tatkala ia melihat bahwa gelas besar itu telah terisi penuh dengan sperma seluruh laki-laki yang ada di ruangan itu.

Kali ini terlihat wanita itu mendekati dan berdiri tepat di hadapan gelas besar yang sudah terisi penuh sperma itu dan ia didatangi oleh seorang laki-laki yang memakai baju lengkap (mungkin sang sutradara) yang berbicara pada si wanita tadi yang terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum tanda mengerti.

Seusai memberikan mungkin semacam arahan (karena dalam bahasa Jepang, aku jadi kurang ngerti), sutradara itu pun pergi dan kamera didekatkan pada si wanita cantik yang kini sudah memegang gelas besar penuh sperma tadi dengan kedua tangannya.

Wanita cantik itu kembali tersenyum di depan kamera dan membungkukkan badan tanda memberi hormat lalu.. lalu ia mulai meminum seluruh sperma yang ada di dalam gelas besar tadi.

Ketika pertama kali aku menontonnya di tempat temanku, aku benar-benar kaget setengah mati akan apa yang kulihat, tapi sekarang aku sudah bisa lebih mengontrol diriku, apalagi sekarang aku berada di depan Rania.

Aku segera melihat ke arah Rania untuk mengetahui bagaimana reaksinya, dengan mata yang terus menatap ke arah layar kaca kembali terlihat raut wajahnya berubah dari serius menjadi raut wajah orang yang sedang terkejut, matanya terbelalak dan mulutnya membuka tapi tidak terucap satu kalimat pun, yang terdengar hanyalah suara desah keterkejutan, "Haah!?"

Rania terus memperhatikan si wanita yang pada akhirnya berhasil menghabiskan seluruh sperma yang terdapat di gelas besar itu dengan meminumnya lalu ketika selesai ia tersenyum puas penuh kemenangan dan mengangkat gelas besar yang kini kosong itu tinggi-tinggi dibarengi dengan suara gemuruh tepuk tangan para lelaki yang ikut menyumbangkan seluruh sperma tadi.

Film itu pun selesai dan seperti biasa aku segera membereskan semuanya sementara Rania terlihat masih duduk sendiri di sofa diam membisu seolah-olah ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya.

Setelah semuanya beres, aku datangi Rania sambil kupegang kedua bahunya dan bertanya,"kenapa Rania cantik?" kok kayak orang yang kebingungan sich?" Ia hanya menatapku dengan pandangan kosong tak menjawab pertanyaanku. "Tadi Rania udah lihat khan bahwa abang tidak bohong!" wanita sangat menyukai meminum sperma dan Mbak yang tadi Rania lihat sudah membuktikannya!" jelasku.

Rania tetap diam tidak menjawab dan aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya, segera kuangkat badannya dan membawanya ke kamar tidurnya pelan-pelan agar adiknya, Sekar, tidak terbangun.

Setelah kuselimuti tubuhnya aku mengucapkan selamat tidur sambil sebelumnya kuberi dia ciuman lembut selamat malam di bibirnya yang tipis itu. Semenjak menonton film itu, perilaku Rania menjadi agak aneh, ia menjadi agak pendiam dan terlihat ia menahan diri untuk tidak meminta "os" padaku.

Aku tahu hal itu dan menghormati keputusannya dan mungkin hal inilah yang membuat hubungan kami semakin dekat dan membuat rasa sayangku padanya semakin besar. Kira-kira dua minggu sampai aku berpisah dengan Rania karena berlibur, aktivitas "os" untuk Rania diistirahatkan dan ini membuatku sangat merindukan kehadirannya.

Liburan yang menyenangkan bersama keluargaku berakhir sudah, dan aku sudah harus cepat-cepat kembali ke kota kembang untuk persiapan sekolahku. Sore itu, ketika tiba di rumah, bapak dan ibu Sis menyambutku dengan hangat, mereka menanyakan kabar keluargaku dan kusampaikan bahwa mereka baik-baik saja lalu kuberikan oleh-oleh yang sudah dipersiapkan keluargaku khusus untuk bapak dan ibu Sis sekeluarga.

Aku bertanya ke mana Rania dan Sekar, karena aku tidak melihat mereka lalu ibu Sis menjawab bahwa Rania dan Sekar tadi diantar pergi berenang dan ditemani si Was. Ibu Sis juga merasa kaget ketika mendengar tiba-tiba Rania ingin mengajak Sekar, bapak dan ibu Sis untuk berolah raga renang, karena biasanya Rania kurang menyukai olah raga.

Aku tersenyum senang mendengarnya karena akulah orang yang menganjurkannya agar berolah raga renang, karena selain menyenangkan berenang bisa membuat tubuh menjadi sehat dan juga membentuk tubuh menjadi indah.

Bapak dan ibu Sis kemudian menyuruhku untuk beristirahat di kamar yang biasa kutempati, sementara mereka sibuk membereskan oleh-oleh yang kubawakan. Selesai membereskan barang bawaanku, aku pun tertidur karena lelah. Kira-kira pukul 20 aku bangun dari tidurku lalu beranjak menuju ruang makan, tetapi ketika melewati ruang tengah, aku bertemu dengan Sekar dan Rania yang sedang menonton TV. Mereka terlihat begitu senang melihatku dan langsung keduanya berlari ke arahku.

"Abaang, apa kabar, Rania kangeen sekali sama abang!" kata Rania sambil memeluk pinggangku dengan erat.

"Iya, Sekar juga kangen sama abang!" kata Sekar yang memeluk paha kiriku juga dengan erat.

"Halo anak-anak manis, abang juga kangen sama Rania dan Sekar!" kataku sambil membelai sayang kepala keduanya.

"Papa dan mama mana?" tanyaku.

"Sedang pergi!" kata Sekar.

"Iya, ke kondangan perkawinan!" Rania menimpali.

"Kalian kok ngga ikut?" tanyaku lagi.

"Sekar capek!"

"Rania juga bang, tadi khan kita abis berenang, jadi sekarang pengen istirahat sambil nonton kartun di rumah" jelas Rania.

"Was mana?" tanyaku lagi.

"Udah tidur!" jawab Sekar.

"Iya, dia juga khan capek berdiri terus di pinggir kolam ngeliatin kita berenang!" kata Rania.

"Ya sudah, sekarang makan dulu yuk, abang sudah lapar nich!"

Mereka setuju, tapi dasar manja, Sekar tetap bergelayutan di kaki kiriku, sehingga sesekarp aku melangkah ia pun ikut terangkat oleh kakiku sementara Rania bergantungan di punggungku, mereka berdua tertawa-tawa gembira dan minta digendong keliling ruang tamu dua kali dulu baru menuju ruang makan, malam itu aku bahagia karena bisa membuat dua bidadari kecilku itu merasa gembira.

Selesai makan dan membereskan ruang makan, kami kembali ke ruang tengah untuk bersantai sambil menonton film kartun bersama-sama. Aku dan Rania duduk di Sofa, sementara Sekar duduk di karpet sambil memegang remote TV.

"Bang, waktu liburan, abang pernah mikirin Rania nggak?" Rania bertanya padaku.

Aku menatap ke arahnya dan menjawab "Iya sayang, tentu saja abang teringat sama Rania dan juga Sekar".

Mendengar jawabanku ia tersenyum senang.

"Memangnya ada apa cantik?" tanyaku.

"Iya, soalnya Rania juga teringat terus sama abang", jawabnya.

"Itu namanya Rania kangen sama abang" sambutku sambil menyentuhkan punggung tanganku dengan lembut ke pipinya yang mulus.

Tiba-tiba, Sekar bangkit dari karpet dan berlari ke arah belakang sofa lalu berdiri tepat di belakangku, ia mengalungkan kedua lengannya di leherku dan menangkupkan wajahnya di pundak kiriku sambil berkata, "abaang, itu ada film hantu di TV, Sekar takuut!".

"Tenang Sekar, di sini khan ada abang dan Kak Rania, jadi Sekar tidak perlu takut", kataku sambil membelai kepalanya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 22, "sebaiknya Sekar bobo sekarang, istirahat, hari ini khan cape abis berenang", kataku.

"Tapi Sekar takut sendirian, Kak Rania temenin Sekar bobo ya", kata Sekar.

Rania tersenyum dan mengangguk.

"Nah ayo sekarang Sekar dan Rania pergi ke kamar dan bobo!" perintahku.

"Sekar mau, tapi harus digendong lagi sama abang sampai ke kamar yaa" pinta Sekar manja.

Aku pun bangkit, lalu dengan membentangkan kedua tanganku dan bergaya seperti monster yang mau menangkap mangsanya, aku berkata dengan suara yang kubuat seserak dan seseram mungkin "Hrrmm.. hrrmm.. mana anak kecil yang mau digendong monster.. hrrm.. hmm..

"Kyaa.. ada monster!" Sekar berteriak sambil tertawa senang.

Ia dan Rania yang juga sudah berdiri berlarian mengelilingi sofa, berusaha menghindari kejaran sang monster sambil tertawa-tawa gembira. Ya, mereka senang dengan permainan ini karena kami sering memainkannya sejak lama. Akhirnya aku pun berhasil menerkam Sekar dan kami bergulingan di karpet.
"Kyaa.. Kak Rania, tolong Sekar!" Sekar berteriak sambil tertawa kegirangan.

Rania pun datang dan berusaha untuk menolong melepaskan adiknya dengan menarik lenganku dan dengan satu gerakan, kubuat Rania juga rebah di karpet dengan posisi telentang dan dengan cepat kupeluk perutnya serta kurebahkan kepalaku di dadanya yang terasa lembut dan hangat. Posisi itu membuatku sangat terangsang.

Kami masih bergulingan sambil tertawa-tawa hingga beberapa saat, lalu aku menggendong Sekar.

"Yak, sudah waktunya goddess-goddess kecil abang ini bobo!" kataku.

Walaupun sudah kugendong, Sekar masih tertawa-tawa melihatku, tangan kanannya merangkul leherku dan tangan kirinya memencet-mencet hidungku. Rania pun tiba-tiba meloncat ke punggungku dan bergantungan minta digendong.

"Aduuh, berat bener, kalian sudah pada besar nih" kataku.

"Iya dong bang, Sekar juga sekarang khan sudah besar, jadi berat" kata Sekar yang masih juga memencet-mencet hidungku, disambut dengan suara tawa Rania yang seolah-olah menyetujui pendapat Sekar.
Tertatih-tatih aku menuju kamar kedua bidadari kecilku ini.

Aku segera menurunkan Sekar di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Rania, menyelimutinya, menungguinya sebentar sampai Sekar benar-benar tertidur. Lampu kecilnya kubiarkan menyala kemudian giliranku untuk menyelimuti Rania, kucium bibir tipisnya dengan lembut sebagai ucapan selamat bobo lalu aku kembali ke ruang TV untuk kembali menonton sambil menunggu pulangnya bapak dan ibu Sis. Benar-benar malam pertemuan kembali yang membahagiakan..

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya tidak ada kejadian yang istimewa antara aku dengan Rania, itu juga dikarenakan bapak dan ibu Sis sedang banyak kegiatan di dalam kota sehingga mereka jadi banyak tinggal di rumah.

Walaupun begitu, sebenarnya Rania juga terkadang meggodaku dengan hanya memakai daster tipis tanpa bra dan terkadang tidak memakai CD ia masuk ke kamarku saat malam hari di mana ortunya sedang berada di kamar mereka, Rania lalu berbicara padaku dengan pose-pose yang sangat merangsang nafsuku, uuh.. seandainya rumah kosong..

Tentu saja aku gelagapan menghadapinya karena aku takut sekali kalau sampai ketahuan kedua ortunya. Biasanya jika sudah demikian Rania menjadi tidak patuh dan tidak mau kuminta keluar dari kamarku, jadi akulah yang keluar.

Walaupun "tanda-tanda" yang diberikan Rania sering terpaksa kutolak karena keadaan yang menurutku "belum-aman" di rumah, tetapi dalam hal lain Rania dan Sekar sangat patuh kepadaku. Hal ini membuat kedua orang tuanya benar-benar percaya kepadaku dan aku juga merasa sayang dan bangga kepada Rania dan Sekar.

Bidadari-bidadari kecilku itu dalam kesehariannya sangat dekat dengan ibu mereka dan mereka bertiga sering berbincang-bincang bersama tentang apa saja. Aku mengetahui hal itu karena Rania menceritakannya padaku. Terkadang, jika melihat ibu dan anak-anak gadisnya itu berkumpul, aku menjadi ketakutan.

Aku khawatir kalau-kalau Rania menceritakan pada ibunya bahwa aku mengajarinya seks, tetapi untungnya Rania selalu ingat dan memegang janjinya. Mungkin juga ini adalah suatu insting yang kuat dari seorang ibu, karena pada suatu saat aku pernah secara tidak sengaja mendengar pertanyaan ibu Sis tentang apa yang Rania dan Sekar lakukan bersamaku jika mereka tidak di rumah.

Tanpa sadar, keringat dingin membasahi tubuhku. Aku mendengar sayup-sayup suara Sekar yang menjawab pertanyaan ibundanya, lalu suara Rania yang ikut menimpali kata-kata Sekar. Jantungku serasa berhenti berdetak..

Perasaanku menjadi sangat lega ketika kudengar pembicaraan masih terus berlanjut dengan penuh kehangatan, tanpa ada ledakan kemarahan dari sang ibu. Hal itu berarti rahasia kami masih aman dan membuatku merasa sangat bersyukur serta menambah rasa sayang dan simpati kepada kedua dewi kecilku itu. Aku juga kembali berjanji pada diriku untuk sekuat tenaga mampu mengontrol diri saat memberikan pelajaran seks pada Rania dan membuatnya bahagia.

Hari-hari terus berlalu, kesibukan sekolah dan juga keadaan rumah yang "belum-aman" membuat kegiatan seks yang biasa kulakukan dengan Rania tertunda tetapi walaupun begitu, harus kuakui bahwa aku bisa merasakan perubahan yang terjadi dalam diri Rania terlebih setelah dia kuperlihatkan film acara "minum-sperma" itu.

Aku menjadi sering melihatnya termenung seolah memikirkan sesuatu yang cukup memberinya beban pikiran. Pernah suatu kali aku melihatnya, ketika itu kami sedang berkumpul makan siang bersama, aku, Rania, Sekar dan ibu Sis. Rania kala itu mengambil sebuah pisang ambon, mengupas kulitnya dan memasukkannya ke mulut tetapi gayanya seperti cewek yang sedang memberikan blow job!

Aku sangat terkejut melihat hal itu, bahkan ibu Sis pun melihat dan menegurnya, "Rania! Makanan tidak boleh dipakai main-main! Ayo cepat dimakan!!" kata ibu Sis dengan tegas. Kulihat Rania sangat terkejut dan cepat-cepat memakan pisang itu sedangkan aku diam seribu bahasa sambil berharap semoga ibu Sis tidak curiga lebih jauh melihat tingkah laku putrinya itu. Untungnya perhasekarn ibu Sis saat itu terbagi ketika HP ibu Sis berbunyi dan ia segera tenggelam dalam pembicaraan yang riang bersama temannya.

Walaupun kegiatan cintaku dengan Rania tertunda, kami masih sering mengisi waktu bersama dengan kegiatan lainnya. Rania dan Sekar sering mengajakku berenang bersama seperti yang selalu kuanjurkan pada mereka demi menjaga kesehatan, kebugaran dan bentuk tubuh mereka yang indah supaya tetap indah dan sexy.

Mereka senang mengajakku berenang karena itu lebih baik dan mengasyikkan buat mereka daripada hanya ditunggui oleh pembantu yang hanya berdiri saja di pinggir kolam. Olahraga lain biasanya lari-lari sore bersamaku di lapangan dekat rumah dan kalau aku sedang malas, maka mereka akan membujukku dengan sangat manja, memasang wajah mereka yang paling imut sehingga aku tidak kuasa untuk menolaknya.

Minggu pagi aku dibangunkan oleh Rania dan ternyata ia mengajakku untuk lari pagi. Sebetulnya aku masih sangat ingin meneruskan tidurku dan bermalas-malasan lebih lama lagi tapi demi Rania, aku pun segera bangun dan menemaninya lari pagi.

Kami berangkat pukul 6, mulai berlari-lari kecil mengiringi mobil bapak dan ibu Sis yang juga berangkat menuju lapangan tenis. Setelah puas berolah raga kami kembali berlari kecil menuju rumah dan ketika tinggal berjarak 200 meter lagi, Rania dengan manjanya merayuku, "Baang, abang cakep deh, tolong gendong Rania sampai rumah ya bang".

"Eh, Rania nggak malu tuh diliatin banyak orang?" tanyaku.

"Rania nggak peduli dengan orang lain! Gendong Rania dong baang!" pintanya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.

Aku tak bisa menolaknya "Ayo naik ke punggung abang!" perintahku.

Dengan semangat 45 Rania segera naik ke punggungku lalu ku kembali berlari kecil sambil menikmati kelembutan payudaranya yang kali ini sudah agak berkembang bergoyang-goyang menyentuh punggungku, hmm.. rasanya seperti pijat payudara ala Thailand hehehe.. kataku dalam hati.

Sesampainya di halaman depan, kami melihat si Was yang sedang sibuk memotong rumput, Rania berteriak sambil melambai-lambai ke arahnya sementara si Was tersenyum melihat kami berdua. Kami melakukan peregangan otot di halaman depan sebelum masuk rumah dan setelah kurasa cukup, kulihat Rania tersenyum nakal ke arahku sambil berkata, "Aduuh abang, tadi Rania minum air mineralnya kebanyakan, abang haus nggak?" tanyanya sambil menahan tawa.

"Iya abang juga haus dong sayang" kataku sambil menggelitik pinggangnya sehingga ia tertawa kegelian lalu dengan masih berusaha menahan tawa Rania kembali berkata, "jadi abang haus ya? Rania mau pipis nich" usai berkata begitu padaku ia langsung lari ke dalam rumah sambil tertawa cekikikan.

"Hehehe.. Rania jahil ya!" kataku sambil pura-pura mengejarnya ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam rumah suasana terlihat masih sepi karena bapak dan ibu Sis masih belum pulang sedangkan Sekar juga masih tidur di kamarnya.

Kenyataan ini membuatku merasa bergairah seketika dan terbersit ide gila di kepalaku. Rania yang baru saja akan memasuki kamar mandi segera kupanggil dan kuajak ke halaman belakang. Pintu dapur segera kukunci untuk memastikan tidak ada seorangpun yang bisa masuk atau melihat apa yang kami lakukan.

Aku berkata pada Rania,"Mana? katanya Rania mau pipis, abang haus nih mau mimi" kataku sambil duduk di rumput. Rania terkejut sekali kelihatannya. "Ayo dong buka celananya terus pipis di sini" perintahku sambil menunjuk mulutku yang kubuka lebar dan berbaring di rumput yang hijau lebat bak permadani. Setelah memastikan keadaan aman Rania pun mulai membuka celana training dan celana dalamnya lalu perlahan menuju ke arahku dengan raut wajah yang masih menunjukkan keterkejutan.

Aku juga agak terkejut melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Rania, kemaluannya yang dulu gundul, sekarang sudah mulai terlihat bulu-bulu halus walau masih jarang.

"Aduuh, ternyata goddess abang sekarang sudah mulai dewasa yaa..". Rania terlihat malu dan tanpa sadar kedua tangannya menutupi daerah kewanitaannya.

"Abaang, udah dong Bang jangan main-main, Rania udah ngga tahan nih!" katanya dengan wajah bersemu merah.
"Iya sayang, sini pipisnya pelan-pelan yaa!" pintaku.

Aku segera menarik pinggulnya dengan kedua tanganku dan mengatur posisinya agar kemaluannya mengarah langsung ke mulutku yang terbuka lebar, siap menampung seluruh cairan pipisnya. Rania pun segera memancarkan cairan pipisnya, awalnya agak tumpah ke bagian leherku tapi dengan sedikit penyesuaian aku mulai bisa menampung semua cairan pipisnya.

Aku segera memberikan tanda padanya untuk menahan pipisnya sebentar karena mulutku sudah penuh kemudian setelah kutelan habis seluruh cairan yang kutampung tadi aku pun memberi tanda padanya untuk kembali melanjutkannya.

Setelah pipisnya sudah keluar semua, aku segera menjilati kemaluan Rania tetapi ia segera berdiri.
"Abaang, udah dulu ah geli!" katanya sambil memakai celana trainingnya kembali.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Emangnya enak bang?" tanyanya menyelidik.

"Rasanya kayak minum obat" jawabku.

"Minum obat?" tanyanya tidak percaya.

"Iya" jawabku sok.

Rania tersenyum malu. Kami segera kembali ke dapur lalu dengan perlahan kuperiksa keadaan rumah dan kulihat ternyata si Was masih sibuk di halaman depan. "Aman" pikirku. Rania mempersilahkanku mandi lebih dulu sambil menggodaku dengan menceritakan beberapa lelucon yang membuat kami ketawa-ketiwi sejenak, lalu aku mandi.

Hari itu, nafsu makanku menurun drastis..

Semenjak acara "minum-obat" itu Rania menjadi semakin dekat denganku. Sikapnya semakin hangat, walaupun aku terkadang suka memarahinya dengan tegas terutama jika dia terlihat malas belajar. Hal itu tidak membuatnya membenciku karena ia juga mengerti bahwa jika seseorang bersikap tegas terhadapnya, selama masih dalam batas kewajaran, artinya orang itu menyayanginya.

Aku juga sering melihatnya senyum-senyum sendiri seolah sedang merencanakan sesuatu dan terkadang mencuri-curi pandang padaku dan jika kebetulan pandangan kami bertemu, maka ia melemparkan senyum manisnya sehingga membuatku salah tingkah.

Sore itu aku tengah bersiap-siap untuk pergi bermain basket bersama teman-temanku ketika Rania muncul di kamarku sambil tersenyum dan berkata, "Rania sudah putuskan, abang akan Rania beri hadiah kejutan!".

"Oh ya, apa kejutannya?" tanyaku ringan sambil masih memasukkan barang-barangku ke dalam tas.
"Eeeit.. rahasia doong!" kata Rania.

"Waah.. Rania buat abang penasaran aja, yak selesai, Rania, abang pergi dulu yaa.. cup" kataku sambil mencium lembut bibir tipisnya yang sexy itu.

Hampir tengah malam saat aku kembali pulang dari bermain basket dan kumpul-kumpul bersama teman-temanku. Aku masuk ke dalam melewati garasi karena aku memang memiliki kunci, kulihat mobil Honda CR-V milik Pak Sis terparkir membuat garasi yang luas itu terasa agak menyempit.

Hal ini juga berarti bahwa bapak dan ibu Sis ada di dalam rumah sedang beristirahat. Setelah kembali mengunci semua pintu, aku langsung menuju kamarku, lalu mandi. Selesai mandi, aku segera memakai piyamaku lalu pergi tidur. Mungkin karena begitu lelahnya malam itu aku sampai lupa mematikan lampu kecil di mejaku dan lupa mengunci pintu kamarku.

Aku tertidur dengan lelapnya sampai-sampai aku bermimpi dikelilingi banyak bidadari cantik dari kahyangan yang menghangatkan tubuhku dengan pelukan dan ciuman panas menggelora membuat tubuhku serasa terbang ke awan.

Aku juga melihat satu bidadari tercantik yang sedang membelai-belai burungku, mengecupnya dengan perlahan lalu mulai memasukkan "milikku" yang mulai berdiri tegak tadi ke dalam mulutnya.

"Aaah.." spontan aku mengerang.

Rasanya begitu hangat dan basah hingga membuat tubuhku menggeliat. Ketika kepala sang bidadari mulai bergerak turun naik, aku merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya hingga mampu membawa jiwaku kembali ke alam nyata.

Perlahan mataku mulai membuka dan aku mulai menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi, tetapi anehnya, ketika aku mulai sedikit tersadar dari tidurku, sensasi nikmat itu masih dapat kurasakan dengan sempurna dan terus berlanjut.

Aku segera menyadari bahwa memang ada sesuatu yang sedang benar-benar terjadi pada diriku. Segera kukejap-kejapkan mataku dan berusaha melihat ke arah selangkanganku dan..

Aku tertidur dengan lelapnya sampai-sampai aku bermimpi dikelilingi banyak bidadari cantik dari kahyangan yang menghangatkan tubuhku dengan pelukan dan ciuman panas menggelora membuat tubuhku serasa terbang ke awan.

Aku juga melihat satu bidadari tercantik yang sedang membelai-belai burungku, mengecupnya dengan perlahan lalu mulai memasukkan "milikku" yang mulai berdiri tegak tadi ke dalam mulutnya.
"Aaah.." spontan aku mengerang.

Rasanya begitu hangat dan basah hingga membuat tubuhku menggeliat. Ketika kepala sang bidadari mulai bergerak turun naik, aku merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya hingga mampu membawa jiwaku kembali ke alam nyata.

Perlahan mataku mulai membuka dan aku mulai menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi, tetapi anehnya, ketika aku mulai sedikit tersadar dari tidurku, sensasi nikmat itu masih dapat kurasakan dengan sempurna dan terus berlanjut. Aku segera menyadari bahwa memang ada sesuatu yang sedang benar-benar terjadi pada diriku. Segera kukejap-kejapkan mataku dan berusaha melihat ke arah selangkanganku dan..

Betapa terkejutnya aku ketika kulihat Rania sudah berada di tempat tidurku dan sedang memberiku blow job!! Aku segera berusaha untuk mendorong kepalanya dengan kedua tanganku secara perlahan agar Rania segera melepaskan hisapannya pada "batangku" karena apa yang ia lakukan padaku saat ini sangatlah nekad dan berbahaya di mana kedua orang tuanya sedang berada di rumah, beristirahat di kamar yang tidak jauh dari kamarku.

"Bagaimana jika ketahuan?" pikirku panik. Kedua tanganku berhasil meraih kepala Rania dan mendorongnya secara perlahan agar melepaskan milikku, tetapi tiba-tiba aku merasakan penolakan darinya dan rasa sakit, karena ternyata..

Rania juga menggunakan giginya untuk mencengkram "batangku" agar hisapannya tidak lepas, sementara dapat kulihat pula matanya menatap tajam ke arahku seolah ia berkata "jangan ganggu aku!!"

Aku pun segera angkat tangan dan hanya bisa bersikap pasrah saja terhadapnya saat itu. Melihatku pasrah, perlahan ia lepaskan cengkraman giginya dan mulai meneruskan aktivitasnya kembali. Kepalanya kembali turun naik dengan perlahan seolah ia sangat menikmatinya sementara lidahnya menggelitiki lubang burungku.

Kelihatannya Rania sudah sering berlatih dengan pisang itu sehingga ketika pertama kali ini menerapkannya padaku, ia sudah seperti cewek yang berpengalaman. Ketakutanku sudah tidak bisa lagi mengalahkan rasa nikmat yang kuterima, aku mulai mendesah dan membelai kepalanya.

Hisapan, jilatan dan kuluman yang ia berikan pada batang dan zakarku membuatku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Rania memang benar-benar hebat untuk seorang pemula.

"Aaah.. sshh.. Rania cantik, abang ngga tahan.. sshh.. udah mau keluar.. aah..!", Mendengarku berkata demikian, ia segera menggunakan tangan kanannya untuk mengocok batangku sementara ia tetap menghisap dan mempertahankan bagian kepala di dalam mulutnya, lidahnya juga turut memberikan kehangatan belaian-belaian kasih.

"Aaah.. aahh..!" aku sudah tidak kuasa menahan kenikmatan yang bertubi-tubi ini, tubuhku tersentak-sentak dan akhirnya "croot.. crroot.. crroot.." cairan spermaku memancar keras di dalam mulut Rania. Tubuhku melemas seiring dengan menjalarnya kenikmatan orgasme ke seluruh jiwaku, sementara Rania masih meneruskan hisapan dan jilatannya seolah-olah tidak ingin ada yang tersisa.

Penerimaan diri, kehangatan dan kasih sayang yang ia curahkan terasa sangat menyejukkan jiwaku. Rania benar-benar seorang bidadari mungilku.

Setelah selesai menikmati spermaku, ia mendekatiku seraya berkata "Abang suka hadiah Rania tadi?" Aku tersenyum haru dan mengangguk, kubelai lembut kepalanya lalu ia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memelukku.

"Abang sayang sama Rania" bisikku.

Kukecup mesra kepala bidadariku ini, wangi rambutnya mendamaikan perasaanku. Kupeluk dan kubelai mesra tubuhnya sampai ia benar-benar kembali tertidur dalam kehangatan pelukanku. Jam mejaku menunjukkan pukul 3.30 pagi saat aku mengangkat tubuh Rania perlahan, menggendongnya kembali ke kamar tidurnya.

Jaraknya tidak terlalu jauh, namun aku harus melewati kamar kedua orangtuanya. Hal itu menjadikan perasaanku sangat tegang karena harus bergerak perlahan untuk menghidari suara gaduh. Terlebih bila kudengar suara batuk dari dalam kamar ortunya, maka aku akan berdiri mematung sembari memejamkan mata, saat itu bahkan rasanya detak jantungku bisa didengar orang sekampung.

Akhirnya aku berhasil mengembalikan Rania ke tempat tidurnya, menyelimutinya, lalu cepat-cepat kembali ke kamarku. Sesampainya di kamar, kubuka sedikit kaca jendela dan kutanggalkan bajuku yang basah oleh keringat, lalu kunyalakan rokok dan kuhisap dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku. Pagi itu merupakan pagi terindah yang pernah kualami seumur hidupku.

Suara burung yang berkicau riang menyambut pagi terdengar bagaikan sebuah sonata nan indah yang seolah juga turut mengiringi kebahagiaan perasaan diri ini setelah menerima "hadiah-kejutan" luar biasa, yang pernah diberikan seorang bidadari mungil padaku. Segar rasanya tubuhku pagi itu walaupun kurang tidur semalaman, kuhirup udara pagi yang segar itu sedalam-dalamnya sambil kukayuh santai sepedaku menuju sekolah.

Aktivitas rutin pun berjalan seperti biasanya di sekolah, hanya saja teman-temanku menilai sikapku menjadi lebih riang dibanding hari-hari lainnya. Siang itu sepulang sekolah, aku menuju rumah temanku untuk mengerjakan tugas kelompok, padahal aku sudah sangat ingin pulang dan bertemu Rania secepat mungkin, tetapi.. apa boleh buat, aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu.

Sore itu aku baru bisa kembali bersepeda pulang ke rumah dan sesampainya di halaman aku melihat mobil CR-V Pak Sis nongkrong di sana.

"Wah, belum aman nich!" pikirku.

Aku segera menyimpan sepedaku di garasi, segera menuju kamarku lalu mandi. Saat makan malam aku juga masih belum melihat Rania, hanya Sekar yang terlihat baru bangun.

"Rania belum pulang pak?" tanyaku.

"Ooh sudah pulang tadi siang, tapi lalu ia bapak antar ke rumah Ani, katanya mau mengerjakan tugas sekolah yang penting.

"Oh ya, bapak juga ingin menyampaikan bahwa besok sore ibu dan bapak akan berangkat ke Jakarta, baru lusa menuju Australia selama 1 minggu karena ada keperluan bisnis yang mendesak" kata Pak Sis dengan wajah yang berseri-seri.

"Lho, kok mendadak sekali pak?" tanyaku.

"Sebenarnya tidak mendadak, berita ini sudah bapak terima dari kemarin-kemarin, bapak juga sudah dibelikan tiket oleh perusahaan, Rania dan Sekar pun sudah bapak beritahu kemarin malam, hanya kamu saja yang tidak ada" jawab Pak Sis semangat.

"Bapak mau berpesan padamu agar selama kami pergi, kamu yang bertanggung jawab penuh di rumah ini dan juga harus menjaga dan memperhatikan Rania dan Sekar, bantu mereka terlebih dalam pelajaran agar tidak mendapat nilai buruk dalam ujian, kamu mengerti?" tanya Pak Sis tegas.

"Iya pak, saya mengerti" jawabku.

"Baiklah, kalau begitu sekarang bapak jemput Rania dulu" kata Pak Sis dengan wajah yang cerah sambil mencium kening ibu Sis.

"Hati-hati ya pak!" kata ibu Sis.

Aku sudah tidur di kamarku saat Pak Sis dan Rania kembali ke rumah sehingga hari itu hampir bisa dikatakan bahwa kami tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.

Keesokan harinya, sepulang sekolah aku segera pulang ke rumah untuk membantu bapak dan ibu Sis menyiapkan segala yang mereka butuhkan. Setibanya di rumah kulihat koper-koper besar yang sudah siap dibawa, tertata rapi di ruang tamu.

Pak Sis kemudian memintaku untuk mencarikan taksi karena menurutnya cara itu lebih baik daripada hanya menelepon lalu menunggu. Aku segera keluar dan mencari taksi kosong di pinggir jalan besar yang agak jauh dari rumah. Tidak lama kemudian menaiki taksi yang kupanggil.

Aku segera mengangkat koper-koper besar itu ke dalam bagasi sementara Sekar dan Rania membantu dengan membawakan beberapa tas kecil. Setelah seluruh barang yang akan di bawa sudah dimasukkan ke dalam taksi, bapak dan ibu Sis memanggilku ke ruang tamu sementara Sekar, Rania dan si Was menunggui taksi di luar.

Bapak dan ibu Sis memberikan beberapa pesan penting padaku seperti beberapa nomor telpon penting yang bisa dihubungi jika ada sesuatu di luar kendali, namun intinya mereka mempercayakan semua padaku untuk sementara mewakili mereka menjaga dan memperhatikan kedua putrinya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

"Semoga berhasil Pak Sis dan ibu!" kataku.

"Terima kasih dan ingat semua pesan bapak dan ibu ya!" Tegas Pak Sis mengingatkanku.

Seluruh barang bawaan pun kembali diperiksa, lalu mereka berpamitan dengan Sekar dan Rania.

"Sekar, Rania, kalian harus nurut sama abang, jangan lupa belajar dan jangan nakal ya!" kata ibu Sis sambil memeluk dan mencium pipi kedua putrinya itu.

"Papa dan mama hati-hati ya!" kata Rania.

"Iya, nanti juga kalau pulang jangan lupa oleh-olehnya yaa!" sambung Sekar.

Pak Sis pun memeluk kedua putrinya dan mencium kening mereka.

"Papa dan mama berangkat dulu ya sayang, kalian baik-baik di rumah ya!" kata Pak Sis.

Selesai berpamitan, mereka lalu menaiki taksi yang akan mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk lalu berangkat menuju Jakarta.

Taksi yang membawa bapak dan ibu Sis telah menghilang di balik tikungan jalan ketika aku melirik ke arah Rania, pandangan kami pun bertemu dan ia melmparkan senyum manisnya kepadaku.

"Waah..pesta nih nanti malam!!" pikirku gembira.

Kriing.. kriing.. terdengar suara telpon berdering malam itu.

"Halo, dari siapa?" Terdengar suara Sekar menjawab telpon.

"Kak Raniaa.. telpon dari Dewa" teriak Sekar memanggil Rania.

Rania segera menjawab telpon itu.

"Huuh.. banyak amat sih yang nelpon!!" gerutuku.

Sebenarnya bukan hanya malam ini saja, tapi hampir sesekarp malam banyak sekali telpon yang mencari Rania dari temen-temen cowoknya di sekolah. Saat itu aku tidak terlalu peduli karena suasana rumah juga "belum-aman", tapi sekarang.. aku benar-benar merasa sangat terganggu.

Wajahku pastilah terlihat kesal ketika Rania sudah berada di dekatku kembali dan bertanya, "Abang kenapa sich? Kok kelihatannya marah, ada apa bang?" tanya Rania.

"Siapa sih itu yang nelpon, pacar ya?!" tanyaku dengan nada ketus, padahal aku sudah sangat berusaha untuk tenang, tapi tetap saja yang kuucapkan bernada ketus emosi.

"Iya bang, hihihi enggak kook, Dewa cuman temen biasa tadi juga cuman nanyain PR buat besok, Mmm.. abang cemburu yaa?" godanya padaku sambil melemparkan senyum nakal.

"Eh.. eng.. enggak kok, cuman sinetronnya sedang seru tuh" kataku dengan gugup berusaha mengelak.

"Kenapa sih dari tadi banyak amat mahluk yang nelpon??" tanyaku akhirnya.

Rania tersenyum lalu berkata, "begini deh, nanti kalau ada yang nelpon lagi, abang juga angkat telpon yang di kamar mama yaa, biar bisa ikutan dengar" katanya.

"Oh boleh, abang juga pengen tau apa sih maunya orang-orang yang nelponin Rania itu.. huh.. mengganggu saja mereka!!" jawabku kembali dengan nada ketus.

Rania lalu duduk di sampingku di sofa panjang sambil merangkulkan tangan kiriku pada lehernya, lalu ia dengan manja merebahkan kepalanya di pundakku.

Perasaanku pun kembali tenang. Kami menonton acara TV bersama, melepaskan lelah sehabis sibuk mengerjakan tugas-tugas rumah untuk sekolah esok. Sekarlah yang paling berkuasa memonopoli acara TV yang kami tonton karena ia memegang remote TV, duduk di karpet sambil bermain dengan boneka-boneka Barbienya dan tidak ada seorang pun yang boleh mengganggunya saat itu karena ia sangat suka menonton sinetron kesayangannya, Bidadari.

Setelah sinetron itu selesai, aku segera menyuruh Sekar untuk bobo. Rania dan aku biasanya sering menemani Sekar untuk menina bobokannya, terlebih malam ini saat aku dan Rania ingin mereguk "kenikmatan surga duniawi" yang telah lama tertunda.

"Sekar, ayo bobo sayang, sudah malam nih" kataku membujuknya.

"Nanti ya Bang, soalnya Sekar masih mau nonton TV" kata Sekar sambil tertawa-tawa dan berusaha untuk menghindariku yang berjalan ke arahnya.

Kriing.. kriing.. kembali telpon berbunyi.

"Bang, Sekar angkat telpon dulu!" kata Sekar seolah mendapat angin lalu berlari menuju telepon.

"Halo.. selamat malam.. dari siapa?" tanya Sekar.

"Kak Raniaa.. telpon dari Padi" teriak Sekar memanggil kakaknya.

Rania lalu menggamit tanganku dan memintaku untuk mendengarkan pembicaraan mereka lewat telpon di kamar ortunya. Pintu kamar kubuka lebar-lebar sehingga aku bisa mendengarkan pembicaraan sambil melihat ke arah Rania yang berdiri di sana.

"Halo" kata Rania.

"Hai Rania, ini Padi, sedang ngapain nich?" Padi berbasa basi.

"Nonton TV, eh kamu dari kelas berapa??" Rania bingung.

"eh.. aku dari kelas tiga itu lho, defendernya tim inti basket sekolah kita, kamu khan cheerleadernya pasti kamu tau aku doong" jelasnya.

"Cuihh.. nge-bullshit dia!!" pikirku geram.

"Hmm.. mungkin" jawab Rania dingin.

Suasana hening sejenak, lalu terdengar Padi berkata lagi

"mm.. begini, sebenernya aku mau mengajak Rania nonton pertandingan basket liga profesional besok sore yang di stadion deket sekolah kita, Rania ada waktu ngga?" tanyanya penuh harap.

"Waah, kayaknya ngga bisa deh Di, besok sore Rania mau berenang" jawab Rania cuek.

"Mau berenang yaa? Di mana? Aku temenin deh, aku juga suka berenang, bareng ya besok!" pinta Padi.

"Busseet dasar bajigur! Maksa amat jadi orang, wong Rania juga nggak kenal ama dia" pikirku.

"Ah, nggak perlu deh Di, soalnya Rania ditemenin sama Sekar dan abang, tapi makasih ya" Rania menolak dengan halus.

"Ngga pa pa deh.. tapi gimana kalo besok pulang sekolah bareng kuanter naik motorku, aku tunggu di depan kelasmu yaa" katanya lagi usaha.

"Besok Rania dan teman-teman mau janjian kerja kelompok jadi pulangnya harus bareng-bareng naik angkot soalnya Rania belom tau rumahnya.."

"Huaahh dasar gombal, perayu kelas teri!!" gerutuku dalam hati.

Kesal sekali rasanya, orang itu kok kayak nggak ngerti-ngerti, Rania sudah tidak mau kok masih aja maksa.. dsb.. dsb.. begitulah kira-kira apa yang kupikirkan saat itu. Perasaanku meledak-ledak sekali, ingin rasanya aku memotong pembicaraan mereka dan menyudahinya, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang terlebih di depan Rania, aku harus selalu bisa memberikan contoh yang baik, aku juga berusaha untuk mengerti seandainya aku yang berada pada posisi si Padi tadi, mungkin aku juga akan begitu, yahh, namanya juga usaha..

Aku melihat bahwa begitu banyak orang yang berusaha mengambil hati Rania, mendekatinya dan menjadikannya pacar, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini membuatku merasa sadar bahwa betapa bahagianya aku saat ini karena bisa memilikinya, menyayanginya, mencurahkan seluruh perhasekarn dan perasaan kasih sayangku padanya, merupakan suatu penghargaan tertinggi yang bisa kupersembahkan kepada Rania ataupun kepada bidadari-bidadari kecil lainnya yang pernah dan mungkin akan kutemui sepanjang perjalanan hidupku.

Aku kembali melihat ke arah Rania yang tersenyum-senyum sambil memandangku. Rania terlihat begitu cantik, lesung pipit di pipinya menyempurnakan kecantikan wajahnya, Ia mengenakan daster tipisnya yang seksi sehingga aku dapat melihat tonjolan bukit kembarnya yang tengah berkembang pesat, kulitnya yang putih mulus, tubuh yang seksi feminin, rambut terurai berkilau panjang sebahu, usianya yang baru menginjak 12 tahun, benar-benar seorang bidadari.

Selain teman-teman yang mendekatinya, banyak juga pencari-pencari bakat dan produser-produser sinetron lainnya yang sudah kebelet ingin menjadikannya seorang model-lah, bintang sinetron-lah, tetapi untungnya semua tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Sis, dan aku tentu saja, sangat mendukung keputusan Pak Sis tersebut.


"Mm, jadi besok Rania sibuk sekali ya?" tanya Padi yang keliatannya udah agak ngerti.

"Huaahh dasar lamban!" pikirku emosi.

"Iyyaa.." jawab Rania dengan manja.

Suaranya yang halus dan manja serta silhouette tubuh sexy femininnya plus dua bukit kembar di balik dasternya yang tipis membuat birahiku menggelegak bak lahar di kawah candradimuka, ingin rasanya segera menerkam dirinya dan segera memberikan sentuhan kenikmatan seperti yang biasa kuberikan padanya, terlebih suasana saat ini telah begitu mendukung.

"Hhh.. hh.. hh.." perasaan cemburu dan nafsu birahiku bercampur menjadi satu membuatku tidak mampu lagi mengatur nafasku, jantungku berdegup kencang.

"Eh Padi, udah dulu ya, Rania mau bobo nich!" kata Rania tiba-tiba mengakhiri pembicaraannya, mungkin ia juga bisa mendengar dengusan nafasku di telepon, tapi aku sudah tidak peduli, segera kututup telponnya dan segera berjalan dengan cepat ke arah Rania yang tidak lama kemudian juga menutup telponnya lalu dengan setengah berlari ia masuk ke kamarku.

Ketika aku masuk ke kamar, kulihat Rania tengah berdiri bersandar di meja belajar menantiku sambil kaki kirinya naik ke atas tempat tidurku sehingga dapat kulihat pahanya yang putih mulus itu tersingkap dengan jelas di hadapanku. Dengan cepat kupegang erat kedua bahunya, kutarik lalu kudorong merapat tembok.

Aku merapatkan jarak dengannya lalu kuraih kedua tangannya dan kuangkat ke atas menempel ke tembok lalu kutahan. Posisi Rania sekarang bagaikan orang yang sedang "angkat-tangan" di hadapanku membuat kedua bukit kembarnya tercetak jelas di balik daster tipisnya. Ia memandangku dengan pandangan yang penuh kegairahan sambil sedikit menggigit bibir bawahnya. "Hhh.. hh..hh.." Aku memandang wajahnya dengan penuh nafsu sampai-sampai hembusan nafasku mengibaskan rambutnya.

Posisi dadanya yang membusung ke depan begitu menantang dikarenakan kedua tangannya yang masih juga kutahan di atas. Tanpa bisa kukontrol lagi aku segera menghisap dan menjilati payudara kuncup bidadari kecilku.

Daster tipis yang membalut bukit kembarnya yang sexy itu tidak bisa menghalangi hisapan dan jilatan liarku, bahkan malah membuatku semakin bernafsu untuk menghisap, karena ternyata jika menjadi semakin basah, maka bukit kembarnya itu akan semakin tercetak dengan jelas. Hal ini membuat Rania menggeliat-geliat kenikmatan.

Tidak lama kemudian ciuman dan jilatan kuarahkan ke lehernya yang jenjang, dagunya lalu naik ke bibir tipisnya yang sexy. Pertarungan emosi antara nafsu dan rasio agar tidak melakukan hisapan dengan sangat kuat dan penuh nafsu, hingga bisa menyakiti dirinya membuat tubuhku bergetar.

Kekhawatiran itu membuat kelembutan diriku kembali muncul, lalu kuhisap lidah Rania dengan lembut dan penuh perasaan, melepas kerinduanku yang sudah sekian lama tertunda, sementara tanganku pun mulai merayap turun untuk kemudian menjamah kedua bukit kembarnya. Rania terlihat menikmati apa yang kulakukan terhadap dirinya lalu mulai merangkulkan lengan kirinya di leherku lalu tangan kanannya membelai kepalaku.

 Aku kemudian menggetarkan tanganku seperti vibrator yang kini memegang sepasang payudaranya, hal itu ternyata membuat Rania amat sangat terangsang sehingga kali ini ia tidak bisa mengontrol dirinya dan mulai menghisap lidahku dengan kuat.

Hisapannya pada lidahku begitu kuat di tambah rangkulan tangannya pada leherku sehingga membuat kepalaku serasa terjepit. Bagiku, selama masih dalam batasan yang wajar dan masih bisa kuatasi, Rania boleh lepas kontrol terhadapku tetapi aku yang wajib untuk mengontrol diriku sendiri agar tidak menyakiti apalagi sampai merusaknya secara fisik.

Kugetarkan kembali tanganku agak kencang pada sepasang payudaranya yang sensitif itu dan "Aaahh.." Rania mendesah. Apa yang kulakukan ternyata membuatnya terangsang hebat, begitu hebatnya sampai-sampai ia melepaskan hisapannya pada lidahku dan agak memundurkan payudaranya sedikit ke belakang agar terlepas dari getaran mautku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, segera kubuka daster tipis Rania dan menyisakan CD putihnya, sehingga seolah masih menyimpan misteri yang membuatku menjadi selalu penasaran, lalu kugendong dia ke atas tempat tidurku sambil memberinya french kiss.

Tangan kananku pun sibuk mengusapi perutnya lalu turun ke bagian paha dalamnya dan naik lagi ke perutnya sambil sesekali membelai payudaranya yang sensitif itu. Rangsangan tanganku kini mulai kufokuskan, kuelus puncak bukit payudara kanannya dengan telunjukku sementara keempat jari lainnya memijat-mijat badan bukitnya yang secara utuh telah berada di bawah telapak tanganku.

Perlahan tanganku menggetarkan bukit payudaranya lalu kupercepat intensitas getarannya, hal ini membuat Rania kembali tidak dapat mengontrol dirinya. Rangkulan tangannya pada leherku menjadi sedemikian eratnya, begitu pula hisapannya pada lidahku yang seolah-olah ingin menelan seluruh cairan tubuhku sampai tak bersisa. Hangat nafasnya yang terengah-engah pun menerpa wajahku dan menambah sexy suasana.

Akhirnya Rania menekan dadanya ke bawah agar payudaranya bisa terlepas dari getaran tanganku. Hisapan dan rangkulannya jadi agak mengendor, saat itu aku yakin Rania berusaha curi nafas, tapi aku tidak mau membiarkan nafsunya turun begitu saja, lalu dengan cepat aku segera menggeser ciuman dan jilatanku ke leher kemudian menuju bukit payudara kirinya. Kuhisap dengan cepat puncaknya yang berwarna coklat muda yang indah memberikan gradasi warna yang kontras sempurna dengan kulitnya yang putih.

"Aaahh.. abaanghh.. hh.. hh.. sshh.. Rania ngga kuat baang.. mo pipiissh.." Rania kembali mendesah.

Aku bisa merasakannya, tentu saja dia langsung menyerah, sebab begitu mulutku mendapatkan putingnya langsung kuhisap dan kujilati puncak bukit payudara kirinya itu, tanganku pun langsung mengejar dan kembali menggetarkan payudara kanannya yang agak terlepas tadi.

"Abaanghh.. sshh.. aahh.." tubuh Rania menggelinjang-gelinjang kenikmatan.

Ia juga mulai mengangkat pinggulnya yang berarti ia mau menyerah sekarang. Melihat hal itu aku segera bergerak cepat, menghentikan hisapanku lalu berpindah menuju selangkangannya. Kedua tanganku dengan sigap lalu membuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kupinggirkan bagian celana dalamnya yang sudah basah dan masih menutupi vaginanya karena aku tidak punya waktu lagi untuk melepaskannya.

Sekarang aku bisa melihat cairan kenikmatan yang meleleh keluar dari daerah keperawanan Rania. Aku segera menjilat dan menghisapnya sementara jariku masih menahan bagian CDnya yang tadi kupinggirkan agar tidak lagi mengganggu. Rania segera mencengkram rambutku dengan kedua tangannya dan menekannya lebih dalam sementara paha kiri dan kanannya menjepit kepalaku dengan kuat.

"Abaanghh.. sshh.. aahh.. Rania keluar.. baanghh.." teriaknya.

Tubuh Rania yang sexy itu kini tersentak-sentak, sementara aku berusaha meredam gerakan liarnya agar rangsangan dan hisapanku tidak terlepas dari vaginanya.

"Aaahh.." Seiring dengan desahan itu, meluncurlah cairan orgasmenya yang hangat dan nikmat, langsung kusambut dengan hisapan mulutku. Tekanan tangan dan jepitan pahanya kini sudah lepas, Rania sudah tenang kembali tapi masih terlihat lemas, segera kubuka celana dalam putihnya yang menggangguku tadi.

Kini Rania benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang.

Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Rania ke bawah ketika tiba-tiba..

Kini Rania benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang.

Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Rania ke bawah ketika tiba-tiba..

Celana dalam Rania yang kupegang tadi tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang tidak kami sadari keberadaannya sedari tadi. Aku sangat-sangat terkejut sampai-sampai aku terduduk tegak menghadap ke arah Rania yang masih terlihat lemas. Aku tidak berani menoleh dan kurasa wajahku menjadi pucat.

"Iiih abang, ini khan celana dalam Kak Rania jangan dilempar-lempar doong! lho, kok basah sih celananya? Emangnya abang sama Kak Rania lagi ngapain sih? Kok Kak Rania telanjang?" pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh suara mungil yang sangat kukenal baik.. ya, itu suara Sekar..
Betapa cerobohnya aku sampai-sampai lupa mengunci kamar. Aku berusaha keras mengingat-ingat apa yang terjadi, mengapa Sekar bisa lolos sampai di sini? Seharusnya dia khan sudah bobo..

Wuaahh.. kini aku ingat.. ini semua gara-gara telpon sialan itu yang membuat kami lupa untuk menidurkan Sekar. Rupanya ia masih menonton TV saat kami bercinta di sini. Sekar lalu mendekati Rania dan memberikan celana dalamnya yang ia ambil dari tanganku tadi. Rania tidak tampak terkejut saat melihat Sekar dan itu membuatku sedikit merasa tenang.

Rania merangkul Sekar dan berkata dengan lembut, "abang tadi sedang mengajarkan sesuatu yang pernah Kak Rania ceritakan sama Sekar, masih ingat khan?" tanya Rania.

"Yang ngga boleh bilang papa mama itu khan? Iya kak, Sekar masih ingat" jawab Sekar.

Rania tersenyum senang "Sekar mau khan diajarin juga sama abang dan Kak Rania?" lanjut Rania.

"Tapi tadi Kak Rania diapain sih sama abang, kok sampe teriak-teriak, Sekar khan jadi takut" raut wajah Sekar jadi agak berubah.

Rania memeluk Sekar dan membelai punggungnya seraya berkata, "abang tadi membuat Kak Rania kegelian.. enaak sekali, saking enaknya Kak Rania ngga sadar kalo teriak, naah kalo Sekar mau diajarin sama Kak Rania dan abang, Sekar harus selalu menepati janjinya ya!" bujuk Rania.

"Iya kak, Sekar janji ngga akan bilang papa mama dan mau nurut sama abang dan Kak Rania" janji Sekar.
Rania tersenyum mendengarnya lalu menyodorkan kelingkingnya ke arah Sekar sambil berkata, "janji yaa!" Sekar pun lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Rania tanda ia berjanji.

Perasaanku menjadi tenang kembali melihat kakak beradik yang cantik itu rukun dan akur. "Nah, Sekar sudah berjanji sama Kak Rania, sekarang Sekar harus berjanji juga dong sama abang!" perintahku. Sekar lalu berjalan mengitari tempat tidur ke arahku sambil menyodorkan kelingkingnya untuk mengikat janji denganku. Aku melihat wajahnya yang begitu polos, begitu murni membuat perasaan sayangku padanya meluap-luap. Manusia macam apa yang akan tega menyakitinya??

Aku segera mengangkatnya dan mendudukkannya di atas perutku lalu berkata, "Iya Sekar sayaang, abang percaya sama Sekar, Sekar khan anak cantik yang baik.. cup kataku sambil mengecup keningnya.
"Nah, sekarang abang akan memperlihatkan bagaimana caranya memberikan oral seks kepada Kak Rania, Sekar perhatikan baik-baik!" kataku sambil tersenyum padanya.

Baru saja aku mau bergerak ke arah Rania, tiba-tiba Rania duduk dan berkata, "tidak adil dong Bang kalau begitu, sekarang giliran abang yang Rania kasih "os"!" katanya sambil bergerak ke arahku. Terus terang saja, aku terkejut mendengarnya sampai jadi salah tingkah, ternyata Rania bukan hanya seorang anak cantik dan cerdas tetapi juga penuh pengersekarn. Sebenarnya aku agak malu mempertontonkan batangku di depan kedua godiva kecilku ini, tapi apa boleh buat..

Aku segera melucuti pakaianku di depan kedua goddess mungilku sesuai dengan permintaan Rania. Mungkin karena aku merasa agak malu sehingga batangku yang tadinya begitu tegang, menjadi kembali agak tertidur.Dengan telanjang bulat, aku segera menaiki tempat tidur lalu mengatur posisi Sekar agar dia bisa memperhatikan dengan jelas apa yang akan Rania lakukan. Sekar masih tetap duduk di atas perutku tapi menghadap ke arah Rania sehingga aku juga dapat memeluknya dari belakang, sementara Rania sudah siap berhadapan dengan batangku.

"Sekar, perhatikan Kak Rania yaa!" kata Rania pada Sekar yang mulai memperhatikan ulah kakaknya itu dengan seksama. Rania mulai mengecup dan menjilati batangku dari kepala hingga pangkal, buah zakar, dan tak lama kemudian batangku mulai bangun lagi.

"Iiih.. burungnya abang berdiri!" tiba-tiba Sekar berteriak.

"Iya Sekar, itu artinya abang sayang sama Kak Rania" jawab Rania menjelaskan.

Aku tersenyum lalu menambahkan, "abang sayang sama Rania juga sama Sekar" tambahku sambil mencium pipi Sekar dari belakang.

Rania lalu mulai memasukkan bagian kepala batangku ke dalam mulutnya lalu menguncinya dengan bibir dan lidahnya, kemudian dengan hati-hati agar tidak terkena giginya meluncur turun menuju pangkal batang sehingga hampir seluruhnya berada di dalam mulutnya selama beberapa saat, baru naik lagi ke bagian kepala.

"Aaah.." aku mulai menggeliat keenakan. Sekar yang berada dalam pelukanku, kini menjadi sasaran kegiatanku, tapi aku tidak berusaha merangsangnya agar perhasekarnnya tetap fokus pada Rania. Aku hanya memeluknya dari belakang dengan penuh kehangatan dan mencium wangi rambut dan tubuhnya sebagai penambah stamina, yang juga merupakan aroma terapi bagiku agar mampu bertahan lebih lama menghadapi rangsangan blow job yang Rania berikan.

Semakin nafsuku menggelegak naik, semakin aku menarik nafas dalam-dalam dengan perlahan, menikmati aroma harumnya tubuh dan rambut Sekar. Suatu hal yang menarik bagiku adalah, jika seorang gadis cantik selalu rajin menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun yang sesuai dengan kulitnya, bukan dengan memakai parfum banyak-banyak, maka ia akan terlihat selalu segar, awet muda dan selalu akan menebarkan aroma wangi yang bersih. Hal itu akan menjadi suatu ciri khas bagaikan sidik jari pada sesekarp orang.

"Ssshh.. aahh.." aku kembali mendesah. Hisapan dan gerakan Rania yang semakin cepat membuat konsentrasiku buyar. Rasa geli dan ngilu nikmat akibat kuluman dan hisapan itu mulai menjalar naik ke seluruh tubuh ini.

Kupeluk Sekar dengan agak kencang, nafasku memburu, aku tidak kuat lagi untuk bertahan lebih lama dan, "Aaah.. Rania.. abang mau keluar sayaang.. sshh.. aahh.." Rania segera melepaskan hisapannya, kini tangannya mengocok batangku dengan cepat, mulutnya membuka lebar siap menyambut semburan lahar cintaku.

Tubuhku bergetar hebat bagaikan terkena sengatan listrik dan akhirnya, "Rania.. Aaahh.. croot.. croot.. croot.." spermaku pun muncrat dengan cepat dan banyak mengenai mulut dan wajah Rania dan ketika tembakan spermaku tadi mulai berhenti, Rania lalu menghisap batangku yang mulai melemas dengan antusias seperti seorang yang sedang menghisap permen lolipop.

Setelah merasa sudah tidak ada cairan yang tersisa pada saluran dalam batangku, Rania pun duduk dan menatap wajahku yang kini bertopang lemas pada bahu kanan Sekar, memandang sayu ke arahnya.
"Iiih, Kak Rania kok mau minumin pipis abang?" tanya Sekar setengah berteriak.

Rania tersenyum lalu bertanya, "Sekar sayang ngga sama abang?" Sekar mengangguk.

"Kalau begitu Sekar pasti nanti mengerti" kata Rania dengan bijak.

Aku tersenyum mendengarnya, Rania benar-benar seorang bidadari muda yang hebat dan bijak.
"Nah, pelajarannya selesai, besok kita lanjutkan lagi, sekarang Sekar bobo yaa!" perintahku sambil menggendong Sekar ke kamarnya dengan tubuhku yang masih telanjang bulat, sementara Rania membersihkan dirinya.

Tidak berapa lama Rania masuk ke kamarnya dengan membawa piyamaku saat aku masih menunggui Sekar yang sudah mulai terlelap di balik selimutnya yang hangat. Aku segera memakai piyamaku lalu menuju tempat tidur Rania untuk mengucapkan selamat malam. Ia tersenyum memandangku, kukecup bibir tipisnya yang sexy itu seraya berkata,

"Rania, kamu sangat cantik dan luar biasa malam ini sayang" kubelai rambutnya dengan lembut, "sekarang bobo ya sayang" kataku lagi sambil memeluknya dengan penuh kehangatan, lalu kembali ke kamarku.

Keesokan pagi sampai dengan sore berjalan sebagaimana biasa, tetapi waktu malam setelah mereka kutemani dan kubantu menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, itulah yang rruaarr biasaa. Malam-malam berikutnya programku kepada mereka adalah memberikan tontonan kepada Sekar tentang film-film lesbian, dan juga peragaan deep and hot french kiss, pemberian oral dan blow job secara "live" antara aku dan Rania.

Selama ini aku tidak pernah "menembus" Rania dan menyentuh Sekar secara lebih dalam, hal itu hanya kuwakilkan kepada Rania. Kuminta Rania untuk mempraktekkan french kiss dan pemberian oral pada Sekar sementara aku mengamati dan memberinya instruksi sambil berbaring di samping Sekar, memegang tangannya dan membelai lembut kepalanya.

Beberapa adegan film close-up yang bagus sengaja ku paus untuk memberikan pengersekarn, terutama pada Sekar, tentang gaya dan cara untuk memuaskan pasangannya.

Aku bagaikan seks instruktur bagi mereka (I'm a sex instructor for pretty young divas only, first lesson's free). Pengersekarn-pengersekarn yang kuberikan bukan hanya sebatas aktivitas di atas ranjang saja, tetapi juga sampai pada menjaga gizi seimbang, olahraga yang teratur agar tubuh tetap sexy dan enak dipandang, serta bagaimana cara membersihkan tubuh mereka terutama daerah-daerah yang paling feminin dan misteri dari seorang wanita, tapi untuk hal yang satu itu hanya sebatas pengetahuanku saja, mengenai detilnya, kuanjurkan agar mereka bertanya pada ibundanya. Aku berusaha untuk menanamkan pemikiran serta sikap pada kedua goddess mudaku ini bahwa menjaga kebersihan diri merupakan hal yang teramat sangat penting bagi seorang wanita. Pernah juga Rania bertanya mengenai perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan membandingkannya dengan cewek-cewek yang ada di film lesbian yang kami tonton.

Ia bertanya mengapa cewek-cewek itu di daerah kesekark dan kewanitaannya bersih tanpa bulu, lalu apakah kalo besar nanti payudaranya akan tumbuh jadi sebesar bola basket seperti yang di film karena ia tidak mau seperti itu dan ingin yang normal saja seperti milik ibunya, dan mengapa milikku tidak sebesar tongkat baseball menakutkan seperti yang di film.

Aku memberikan penjelasan bahwa mengenai daerah kesekark dan kewanitaan yang bersih tanpa bulu karena mereka secara teratur mencukurnya karena hal itu melambangkan kefemininan, keindahan dan keseksian bagi mereka, kukatakan juga bahwa mereka itu mencukurnya dengan alat cukur janggut seperti milik papanya tapi kembali kutegaskan mengenai yang lebih benarnya sebaiknya bertanya langsung ke ibu mereka atau ke sesama teman cewek di sekolah yang pastinya lebih mengetahui secara detil hal-hal semacam itu.

Intinya, seorang wanita cantik akan lebih sempurna apabila pandai menjaga kebersihan tubuhnya menghilangkan rambut di tubuhnya secara teratur, kecuali tentunya rambut pada bagian kepala karena itu merupakan sebuah Sekarra kecantikan yang wajib untuk selalu dirawat dan dipertahankan.

Kuanjurkan juga agar mereka saling mengingatkan untuk selalu menajaga kebersihan diri dengan sebaik mungkin, karena walaupun Rania dan Sekar cantik-cantik bagaikan bidadari, namun kalau tidak pandai merawat diri, pasti akan terlihat sangat tidak menarik. Mereka tahu dan pernah melihat contoh-contoh kurang baik yang kuperlihatkan dan mereka pun tidak ingin menjadi seperti itu.

Mengenai payudaranya, aku jelaskan bahwa itu akan tumbuh dan berkembang secara normal tetapi tidak akan sebesar seperti yang kami lihat di film, karena yang di film itu merupakan hasil operasi plastik penanaman silikon, lagipula kutambahkan bahwa aku sangat menyukai yang natural asli alami seperti payudara milik Sekar dan Rania.

Mengenai milikku, kujelaskan bahwa batang segede tongkat baseball itu masih bisa dibilang kecil.. karena ada yang segede dan sepanjang sekarng listrik hahaha.. Kujelaskan batang yang besar itu tidak banyak manfaatnya, malah hanya akan menyakiti si cewek.

Contoh yang kuberikan pada Rania adalah ketika dia memberiku blowjob, maka dia tidak perlu membuka mulutnya lebar-lebar dalam waktu yang lama karena hal itu akan menyakitkan buat rahangnya, lalu kalau dimasukkan ke dalam vagina pasti akan membuat si cewek kesakitan, walau tidak lama karena setelah itu pasti terasa nikmat, tetapi efeknya adalah meninggalkan lubang yang besar dan meninggalkan bentuk yang kurang sedap dipandang.

Aku mengetahuinya karena aku sudah mendengar pengakuan yang diberikan oleh seorang aktris pemain film seks professional itu sendiri kepadaku. Karena itulah aku tekankan pada mereka untuk selalu menghargai dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya semua yang mereka miliki agar lalu tidak menjadi rendah diri dan bersembunyi di balik kepalsuan.

Aku juga menanyakan pada Rania apakah dia suka batang yang segede di film, Rania mengatakan bahwa ia takut melihatnya dan ia lebih suka yang normal alami. Kutegaskan bahwa yang terpenting adalah pengersekarn dalam membahagiakan pasangan, bukan menyiksanya.

Sayang sekali saat itu aku kesulitan mendapatkan film-film Jepang sebagai pembanding karena rata-rata film versi asia khususnya Jepang lebih berani tampil natural, tidak bersembunyi di balik hasil operasi buatan yang penuh kepalsuan, namun mampu menampilkan variasi hebat, kreatif dan inovatif serta berteknik tinggi, sehingga secara pribadi, aku kagum kepada mereka.

Dari sekian banyak materi "kuliah" yang kuberikan, satu hal yang paling penting adalah menjaga diri mereka terutama bila mereka sudah mulai berpacaran nanti, maksudku jangan sampai rudal sang pacar diijinkan untuk menembus keperawanannya lalu si pacar kabur begitu saja, pokoknya kalau si pacar itu sudah ingin yang macem-macem, segera putuskan.

Serahkan diri seutuhnya hanya pada orang yang benar-benar menyayangi, perhasekarn dan bertanggung jawab sebagai suami yang syah itulah kebahagiaan sejati yang kutanamkan pada pemikiran mereka dan kuyakin dapat terwujud suatu hari nanti pada diva-diva mudaku ini.

Keesokan harinya yakni hari Sabtu itu sepulang dari sekolah, aku mendapat kabar per telepon dari Pak Sis bahwa mereka sudah kembali berada di Jakarta dan baru besok sore akan sampai di rumah. Ia juga menanyakan kabar kedua putri yang sudah sangat dirindukannya serta menyampaikan bahwa pertemuan bisnisnya di Australia berhasil dengan sukses.

Aku memberikan laporan bahwa kedua putrinya dan keadaan di rumah baik-baik saja serta mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Kabar itu membuat perasaanku campur aduk,"ini berarti malam terakhir pesta kami bertiga!" pikirku.

Malamnya kebetulan aku ada janji ketemu dengan cewek cantik anak kelas satu di sekolahku yang selama ini kuincar, maka aku pulangnya agak malam, namun Rania dan Sekar sudah kuberitahu dan kujanjikan bahwa pelajaran pasti berlanjut malam ini, mereka juga kuharuskan menonton film lesbian yang sudah kusiapkan sambil menungguku, jadi tidak perlu khawatir.

Kencan malam itu berakhir dengan sukses, karena ketika aku nyatain.. ternyata di luar dugaan dia menerimanya, betapa bahagianya aku malam itu. Saat aku tiba di rumah sekitar pukul 22.00 aku langsung mencari Rania dan Sekar. Agak terkejut ketika kudapati mereka berdua di kamar ortunya tengah berciuman sambil berguling-guling di atas spring bed yang besar itu.

"Waah, kok ngga nungguin abang sich?" godaku.

"Abiis abang lama sich, Rania dan Sekar khan nggak sabar jadinya, tapi ini juga baru mulai kok bang, tadi lamanya nonton film dulu" jawab Rania.

Sekar menghambur ke arahku minta digendong dan ia pun bergantung di punggungku.

"Eh.. abang mau cerita nich, tadi abang sudah nyatain ke temen cewek yang cantik, junior abang di sekolah, dan abang diterima jadi pacarnya" kataku gembira.

"Waah, selamat ya bang, ada fotonya ngga?" tanya Rania.

Aku segera mengambilnya di dompetku, "nih liat, abang dikasih waktu di restoran tadi, gimana menurut Rania?"

"Waah, abang seleranya bagus.. dia cantik sekali, cute, siapa namanya bang?" tanya Rania.

"Liat doong, liat fotonya" kata Sekar.

"Namanya Melati" jawabku.

"Wuiihh, iya Bang cantiik, kaya Kak Rania" Sekar berpendapat.

"Aaah, cutenya lebih mirip Sekar kok" Rania memuji keimutan adiknya.

"Bang, nanti kenalin sama Rania dan Sekar, ajak maen seks bareng" pinta Rania.

"Iya baang" dukung Sekar.

Idenya benar-benar membuatku sumringah.

"Waahh, seru buanget nih" pikirku.

"Pasti, abang kenalin ke bidadari-bidadari abang ini, tapi kalau ngajak maen bareng.. abang nggak bisa janji yaa" kataku.

"Nggak pa pa kok bang, yang penting kenalin dulu sama kita cewek beruntung yang jadi pacar abang itu" kata Rania. "Aaah, Rania bisa aja" kataku tersipu.

"Ayo ah, sekarang kita mulai pelajarannya, biar abang yang buka daster kalian yaa!" kataku sambil mulai melucuti pakaianku sendiri.

Dengan menyisakan celana dalam di tubuhku, aku berkata pada Rania, "malam ini abang mau mencoba Sekar, boleh ya Rania" kataku. Sekar memandang ke arahku lalu ke arah Rania. Rania tersenyum lembut lalu berkata, "boleh dong Bang Rania dan Sekar khan percaya sama abang" jawab Rania. Mendengar ijin Rania, Sekar pun tersenyum lalu memandang ke arahku.

Sekar mengangkat kedua tangannya lurus ke atas tanpa dikomando ketika kedua tanganku baru saja mau membuka dasternya. Satu kesalahan kecil saja yang kulakukan terhadap mereka maka aku akan menjadi salah satu bintang dalam berita TV. Segera kuangkat Sekar yang kini hanya mengenakan celana dalam putihnya itu ke tengah tempat tidur, lalu kurebahkan.

Sementara Rania mengambil posisi berbaring di samping kiri Sekar, memegang tangannya dan membelai rambutnya. Aku duduk tegak di atas kedua lututku untuk menikmati pemandangan-pemandangan indah yang terhampar di depanku. Kuperhatikan Sekar yang kini hanya tinggal dibalut celana dalamnya saja, kulitnya yang putih mulus mirip kakaknya, membuatku tidak sabar untuk memberinya kecupan-kecupan mesra.

Pada sebelah kiri Sekar berbaring Rania dengan daster tipisnya yang agak tersingkap di bagian paha, sehingga kini bisa kulihat kulit pahanya yang mulus dan sekilas celana dalam pinknya yang begitu sexy menggoda.

Rania dengan cepat menutup bagian dasternya yang tersingkap tadi dengan gaya yang malu-malu dan memandangku dengan ekspresi wajah yang begitu polos, lugu, imut sambil kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya, membuat birahiku bergejolak hebat. Bagaikan orang kelaparan yang dihidangkan santapan lezat di depan matanya aku langsung menciumi perut Sekar.
"Aaah.." Sekar mulai mendesah.

Hisapan dan jilatanku kembali merambat naik menuju lehernya, kedua daun telinganya yang membuatnya merasa kegelian sehingga ia agak menarik kepalanya menjauhi mulutku. "Abaanghh.. geli.. ahh.." Secara samar kuperhatikan ternyata Rania kini sedang menghisap sepasang payudara kuncupnya bergansekarn, itulah sebabnya Sekar menjadi agak lepas kontrol.

Kubiarkan Sekar menghisap lidahku sepuasnya sementara tanganku kini mulai mengusapi paha dalamnya. Kugetarkan tanganku bagaikan vibrator pada paha dalam Sekar sebelah kanan dan hal ini ternyata membuat badan Sekar terhentak ke bawah, seakan ingin melepaskan diri dari getaran tanganku dan hisapan Rania. Sekar tidak kuat menerima rangsangan nikmat yang bertubi-tubi seperti itu sehingga ciumannya pun terlepas.

"Aaah.. sshh.. aahh.. hh.. hh.."

Kesempatan itu segera kumanfaatkan untuk berpidah ke posisi. Naluriku mengatakan bahwa Sekar tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi. Dengan sigap kedua tanganku segera menarik celana dalam putih itu ke bawah. Kubuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kukecup dan Sekar mulai mendesah.

"Aaah.. abaanghh.. Kak Rania.. hh.. hh.. hh.."

Sekar mengangkat-angkat pinggulnya sementara Rania masih tetap menghisapi payudaranya dan tak lama, "Aaah.. abaanghh.. Sekar mau pipiiss.. hh.. hh.."

Kuredam hentakan pinggulnya.

"Aaah.. abaanghh.."

Akhirnya tubuh Sekar bergetar kenikmatan walau agak tertahan oleh tanganku dan tubuh Rania. Setelah gerakan Sekar terhenti, aku memberikan Rania French Kiss. Rania menyambut ciumanku dengan penuh antusias, kemudian kami pun berbaring di sisi kanan dan kiri Sekar sambil memeluk tubuh kecil itu yang kini terkulai lemas untuk memberinya kehangatan. Aku tersenyum lalu berkata, "Nah, sekarang giliran Rania dan abang!" kataku semangat.

Segera kubuka daster tipis Rania lalu kurebahkan kembali seraya memberinya ciuman penuh nafsu. Tanganku dengan cepat kini mulai menggerayangi bukit kembarnya yang indah dan mulai menggetarkannya.

Dapat kurasakan Rania berusaha untuk bersikap kuat dengan mampu bertahan, tetapi aku bisa mengetahuinya bahwa dia berusaha mati-masekarn untuk menahan rangsangan tanganku pada payudaranya melalui dengusan nafasnya yang mulai tidak terkontrol serta hisapannya pada lidahku yang menjadi begitu kuat.

Tangan kananku segera kuarahkan ke paha dalam bagian kanan, kubelai-belai lalu kugetarkan di bagian yang paling dekat dengan daerah paling femininnya yang masih tertutup celana dalam tipisnya sehingga getaran tanganku juga turut menggetarkan dengan daerah femininnya yang mulai basah itu.

"Aaahh.. hh.. hh.." Rania akhirnya melepaskan hisapannya karena tidak kuat menahan nikmatnya rangsanganku di tiga tempat sekaligus itu. Inilah kesempatan emasku untuk berpindah posisi dan memberinya oral, segera kugigit karet celana dalamnya dan kutarik ke bawah.

Begitu terlihat belahan vertikalnya aku agak terkejut sekaligus bahagia, karena ternyata daerah itu telah kembali bersih. Bulu-bulu halus yang kemarin-kemarin masih kulihat itu kini telah hilang, bersih dan halus seperti milik Sekar.

Ini merupakan sebuah hadiah kejutan kedua yang istimewa bagiku. Kubuka lidahku lebar-lebar agar dapat mengusap bagian bibir vertikalnya yang menggairahkan dan sangat feminin itu. Hisapan kumulai dari paha kiri bagian dalam, merambat naik lalu ke paha dalam bagian kiri tanpa menyentuh vaginanya.

Setelah beberapa saat menikmati pahanya barulah ciuman dan hisapan kuarahkan untuk memberikan rangsangan kontinyu pada bagian klitorisnya, sementara kedua tanganku yang menyusup dari bawah kedua pahanya sudah berada pada pada bukit kembarnya dan siap memberikan getaran yang dahsyat.

Sekar yang masih berbaring di samping Rania hanya bisa memperhatikan aktivitas kami sambil memegang tangan dan membelai rambut kakaknya yang tengah kubuat melayang di angkasa merasakan nikmat surga duniawi.

"Aaahh.. aah.. shh.. ouuhh.. hh.. hh.. hh" Rania mendesah tak karuan kala aku menghisap dan memilin-milin klitorisnya.

Kedua pahanya menjepit kepalaku dengan erat, menandakan dirinya amat sangat terangsang oleh apa yang kulakukan. Tanganku mulai kembali menggetarkan bukit kembarnya yang indah itu, selaras dengan hisapan, kecupan dan jilatan yang kulakukan pada klitorisnya.

"Ooouhh.. ooh.. sshh.. aahh.. hh.. hh.. abaanghh.. hh.. hh.. hh" Rania kembali meracau.

Kecepatan getaran kedua tangan kupercepat begitu pula dengan permainan hisapanku pada klitorisnya. Tubuh Rania tersentak-sentak hebat, Ia berusaha melepaskan kedua bukit kembarnya dari tanganku dengan menekan badannya ke bawah, namun tidak berhasil. Ia menaik turunkan pinggulnya dengan liar, "Aaah.. abaanghh.. Rania pipiiss.. oouhh.." Segera kulepas tangan kananku dari payudaranya untuk memberikan belaian pada klitorisnya, sementara mulutku kuarahkan ke lubang vaginanya..

"Abaangh.. shh.. ah.. ah.. ah" akhirnya Rania pun kutaklukkan.

Desahan Rania yang begitu menggairahkan terdengar mengiringi deras dan hangatnya cairan orgasmenya yang mengalir keluar dari lubang vaginanya.

Diriku sendiri juga sudah tidak kuat lagi menahan nafsu yang semakin bergejolak dan siap meledak ini, segera aku membuka celana dalamku dan mulai mengocok batangku yang sudah berdiri dengan tegangnya.

Kuarahkan batangku ke wajah Rania agar dia menghisapinya seperti biasa. Keringat deras yang mengucur di badan dan wajahnya, serta tubuhnya yang kini terlihat lemas sehabis dilanda getar orgasme hebat tadi menjadikan diriku tidak tega untuk memintanya menghisapi batangku. Akhirnya kuputuskan untuk mengocok sendiri dan mengeluarkannya di dada Rania. Tidak lama kemudian aku mengalami orgasme dan ejakulasi hebat, spermaku muncrat dengan keras membasahi dada Rania.

Aku pun terkulai lemas di tempat tidur di samping tubuh Rania. Kami bertiga saling berpelukan dan berciuman dengan hangatnya di atas tempat tidur besar milik orang tuanya itu. Setelah puas berciuman, kuajak mereka mandi, membersihkan diri bersama dengan air hangat.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama baru, kami pun kembali naik ke tempat tidur besar itu untuk beristirahat dan saling berpelukan dengan penuh kehangatan.

"Rania hebat, abang kaget sekali lho tadi, kok bisa bersih dan sehalus itu, gimana caranya yaa?" tanyaku menggodanya.

"Ah abang, itu khan rahasia wanita" jawabnya sambil melihat ke arahku dan tersenyum manis.

"Pokoknya dari sekarang Rania pasti akan selalu mempraktekkan nasehat-nasehat abang!" lanjutnya.
Kukecup bibirnya yang sexy itu dengan lembut.

"Sekar juga, malam ini hebaat sekali, abang nggak nyangka lho" kataku lagi pada Sekar.

"Sekar khan sayang sama abang" jawabnya simpel penuh pengersekarn, sambil memelukku dengan erat. Kucium rambutnya yang harum lalu kupeluk kedua bidadariku itu dengan penuh kasih. Kami pun lalu terlelap dalam mimpi yang damai dan indah di malam yang sangat luar biasa itu.

"Tinit.. tinit.. tinit.." Pagi itu sekitar pukul tiga dinihari aku terbangun mendengar suara weker yang sudah sengaja kuaktifkan semalam. Bergegas kumatikan weker lalu kugendong bidadariku satu per satu menuju ranjang mereka masing-masing, kuselimuti mereka, kemudian aku kembali ke kamar ortunya untuk mengganti sprei, sarung bantal dan guling dengan yang baru.

Hal ini kulakukan untuk menghindari prasangka yang tidak-tidak dari si Was jika pagi nanti ia mendapati kami bertiga tidur seranjang di kamar bapak dan ibu Sis, terlebih hari ini mereka akan kembali ke rumah. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamarku untuk kembali beristirahat.

Siang harinya, Rania sibuk di dapur dibantu oleh Sekar dan si Was membuat kue untuk menyambut kedatangan kedua orangtuanya, sedangkan aku ikut membantu dengan membelikan semua bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat kue di supermarket.

Sore harinya barulah kue "selamat-datang" buatan Rania dan Sekar itu jadi dan siap saji, setelah itu kami menonton film-film VCD kartun koleksi kesukaan Sekar dan Rania sambil menunggu orangtuanya tiba di rumah.

Sekitar pukul 19.30, kedua ortunya tiba di rumah dan kami menyambutnya langsung di halaman depan. Denga sigap kubuka pintu taksi yang mengantarkan kedatangan bapak dan ibu Sis, mereka keluar dan menyalamiku dengan wajah yang berseri-seri, lalu memeluk erat kedua putri kecilnya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini menjadi beban selama berada di Australia.

Segera kuangkat seluruh barang bawaan bapak dan ibu Sis dari taksi ke dalam rumah, dibantu oleh si Was. Suasana di dalam rumah dipenuhi kebahagiaan, Rania dan Sekar kini memberikan hasil karya mereka berupa kue "selamat-datang" kepada ayah dan ibunya. Mereka berbagi hadiah, pelukan kasih, canda dan tawa serta cerita, tapi tentunya rahasia kami tetap terjaga dengan baik.

Hubunganku dengan Pak Sis sekeluarga tetap berjalan dengan baik, khususnya dengan Rania dan Sekar, namun semenjak saat itu aktivitas ranjang kami bertiga jadi sangat tersendat dikarenakan oleh kesibukanku mempersiapkan diri untuk ujian-ujian dan Ebtanas.

Seperti yang sudah kupersiapkan sebelumnya bahwa ketika aku tidak di tempat atau berhalangan, maka mereka berdua bisa saling mereguk kenikmatan tanpa diketahui papa dan mamanya dan juga tanpa harus minta bantuan dari laki-laki lain yang pasti akan menghancurkan segalanya.

Aku mengetahuinya karena mereka selalu mengajakku dan jika aku memang tidak bisa karena terpaksa harus nginap di rumah teman untuk belajar bareng misalnya, maka Rania ataupun Sekar akan memberikan laporan aktivitas erotis mereka berdua dengan begitu membangkitkan gairahku dan membuatku hanya bisa menelan ludah, merasa sangat iri dan menyesal karena tidak bisa turut berpartisipasi, tapi apa mau dikata..

Hubunganku dengan Melati pun sudah semakin erat dan ia juga sudah kukenalkan pada kedua bidadariku, bahkan ia bisa menjadi akrab dengan mereka.

Semua hal terindah itu hanya bertahan sampai aku lulus SMA saja, karena aku harus pindah ke ibukota untuk melanjutkan pendidikan sedangkan Pak Sis dan keluarga harus pindah ke Autralia karena bisnis yang ia tangani berkembang pesat dan sukses besar. Hubunganku dengan Melati pun terpaksa putus dengan baik-baik karena kepindahanku,

Tapi sebagai teman, ia masih rajin menghubungiku. Inilah kehidupan, realita yang sungguh sangat disayangkan bahwa segala sesuatu yang berawal dengan indah harus berakhir dengan kepedihan. Sekarang, semua manis pahitnya pengalamanku, hanyalah menjadi sebuah, kenangan..

Cerita sex sahabat, foto hot terbaru, foto hot Jilbab terbaru, foto hot tante terbaru, foto sex mahasiswi, cerita sex terbaru, cerita sex three some, Cerita Sex Perawan, cerita sex pembantu nakal, cerita sex ngetart, cerita sex ABG, cerita sex Jilbab, kumpulan cerita sex perkosaan, cerita sex Janda, cerita sex Guru, cerita sex Lesbi, cerita sex Hamil, cerita sex pembantu, cerita sex Pelajar, cerita sex setengah baya, cerita sex dosen, cerita sex SMP, cerita sex pramugari, cerita sex Bertukar pasangan, Cerita Sex Suster Sange, Cerita Sex Pacar Sange, Cerita Sex Pasangan Gay

Subscribe to receive free email updates: