Suka Cerita Sex Adiva Cewek Mungil

>
Web Khusus Dewasa Yang Berisakan Cerita Sex Hot Terbaru, Mesum, ABG, Ngentot, Tante, Janda, Sedarah, Mahasiswi, Selingkuh, Horny, Memek Perawan 18+.  Waktu itu aku baru mendapatkan kerja di Surabaya, di sana aku memilih untuk ngekost karena ingin memiliki rumah juga tidak bisa, harus nabung dulu sementara ini aku tinggal dikost dekat dengan kantorku, dan begini ceritanya dimulai yang aku tempati kostnya adalah seorang nenek dimana dia mempunyai cucu cewek yang sekolahnya amsih SMP, panggil saja namanya Adiva.

Suka Cerita Sex Adiva Cewek Mungil

cerita sex ABG, cerita ABG terbaru, cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ABG ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata ABG ngentot, koleksi cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru

Pengalaman aku kali ini berawal beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 1993 - 1996. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Akhirnya aku putuskan untuk kost didaerah dekat kantor.

Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Adiva.

Adiva adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Adiva mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Adiva mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Panca, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.

Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Adiva yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku.

Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Adiva membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Adiva, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan.

Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks.

4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Adiva harus kuliah di kota dingin Malang.

Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Adiva, di tahun 2001 aku iseng-iseng call Adiva di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP.

Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Adiva selalu rajin pulang ke Surabaya.

Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Adiva yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.

"Mas Panca, gimana khabarnya," tanya Adiva merusak pikiranku yang jorok.

"Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?" jawabku gugup.

Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.

"En, kamu sudah punya pacar..?" tanyaku.

"Lagi blank nih Mas.. " jawab Endha tangkas

"O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?" godaku.

"Ihh, Mas Panca emang bandel kok," sambil mencubit lenganku.

"Aow..," aku meringis kesakitan.

"Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya," tanyaku sekali lagi.

"Mau aja asal Mas yang ajarin," jawaban Adiva membuat aku merinding.

Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.

"Adiva, minggu depan ketemu lagi yuk," ajakku.

"Boleh deh Mas..," jawab Adiva dengan ceria.

"Tapi nginep ya di hotel?" godaku.

"Lho ngapain?" Adiva balas bertanya.

"Katanya mau lanjutin pelajarannya.." aku mencoba memancing .

"Nakaall Mas Panca.. nih."

Tanpa terasa akhirnya Adiva harus turun di dekat rumahnya.

"Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan," sambil pamit Adiva mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Adiva, duh betapa bahagainya diriku.

Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Adiva. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.

Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.

Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Adiva ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.

"Mas, aku mau mandi dulu ya..?" pinta Adiva.

"Oke silahkan, apa mau aku mandiin," godaku.

"Nggak ah, nakal Mas Panca nih.." sambil menjawab seperti itu, Adiva bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Adiva berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Adiva yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.

20 menit berikutnya Adiva keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Adiva karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.

"O ya Adiva, kamu mau makan apa sekalian pesannya," tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.

"Terserah Mas deh," jawabnya.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..

"En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya," tanyaku serius.

"He eh Mas Panca," jawabnya.

"Adiva.." aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Adiva yang mungil.

"Mas.." Adiva mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Adiva mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.

Lidah Adiva yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Adiva. Pengait BH nya terlepas,

"Mas.. kamu memang guru yang baik," sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.

Sekitar 15 aku bercumbu dengan Adiva, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Adiva dan kegiatan aku semakin mudah karena Adiva berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya.

Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Adiva yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Adiva.

"Oh.. Mas Panca.. asyik sekali Mas.. ughh," rintih Adiva saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Adiva seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya.

Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.

"Mas Panca.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas," rengek Adiva sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Adiva melayang. Ternyata Adiva type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.

"Mas.. Mas Panca, Adiva kebelet pipis Mas.. aduh," rintih Enda.

"Pipis aja sayang di mulut Mas.." jawabku.

"Mas.. aduh.. Adiva nggak kuat.." Adiva menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.

"Aduh Mas Panca.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh.." kata Adiva. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Adiva merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.

Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Adiva kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.

"Wow.. panjang sekali Mas Panca.. aku suka banget."

Adiva mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.

"Aakhh.. Adiva.. kamu pinter tuh," erangku.

Adiva tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.

Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Adiva sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.
Tidak selang berapa lama,

"Mmm, Mas Panca.. aku.. pipis lagi.. oh.." Adiva menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Adiva dihadapanku dan,

"Adiva kamu masih virgin?" tanyaku.

"Mungkin sudah tidak Mas,?" jawab Adiva.

Aku sedikit kaget sembari bertanya, "Siapa yang lakukan pertama?"

"Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah."

Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Adiva, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.

"Mas Panca.. enak sekali sayang."

Adiva membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.

"Ooh.. Mas Panca, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku.." Adiva berkelenjotan menerima sodokan penisku.

"Crek crekk crek" penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.

"Mas.. Adiva, pipis lagi.. ahh.." Adiva menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.

Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Adiva sehingga posisi Adiva sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Adiva dari belakang dengan keringat bercucuran.

"Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh.." Adiva merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Adiva, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.

45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Adiva orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.

"Adiva.. Mas mau keluar nih..," rintihku.

"Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..," pinta Adiva.

"Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh."

Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.

"Adiva.. ohh Mas keluar..," secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Adiva.

"Aowww.." spermaku muncrat diwajah Adiva. Adiva menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.

"Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Panca baru sekali.. kamu hebat Mas," cerita Adiva.

"Kamu suka sayang," tanyaku.

"Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?" balas Adiva bertanya.

"Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu."

Adiva memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.
Cerita sex sahabat, foto hot terbaru, foto hot Jilbab terbaru, foto hot tante terbaru, foto sex mahasiswi, cerita sex terbaru, cerita sex three some, Cerita Sex Perawan, cerita sex pembantu nakal, cerita sex ngentot, cerita sex ABG, cerita sex Jilbab, kumpulan cerita sex perkosaan, cerita sex Janda, cerita sex Guru, cerita sex Lesbi, cerita sex Hamil, cerita sex pembantu, cerita sex Pelajar, cerita sex setengah baya, cerita sex dosen, cerita sex SMP, cerita sex pramugari, cerita sex Bertukar pasangan, Cerita Sex Suster Sange, Cerita Sex Pacar Sange, Cerita Sex Pasangan Gay

Subscribe to receive free email updates: