Suka Cerita Sex Pantat Menggoda

>
Web Khusus Dewasa Yang Berisakan Cerita Sex Hot Terbaru, Mesum, ABG, Ngentot, Tante, Janda, Sedarah, Mahasiswi, Selingkuh, Horny, Memek Perawan 18+. Entah kenapa, semakin aku sering melakukan Making Love dengan seseorang, membuat kehidupan sex aku bersama istriku semakin romantis saja. Dan entah semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini adalah dampak dari terlalu tingginya libidoku sehingga saat aku lagi mood, tidak jarang setelah siangnya atau sorenya aku melakukan dengan teman kencanku, malamnya aku ganti menservice istriku.

Suka Cerita Sex Pantat Menggoda

 cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

Aku selalu bersyukur mempunyai kelebihan dalam urusan bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang aku dapatkan dari film BF, buku-buku sampai obrolan-obrolan dengan teman di kantor, membuat aku semakin bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar fasih dalam menerjemah apa yang aku dapat dari pengetahuan tentang sex.

Itu terbukti dengan keluarnya banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata mereka sangat puas saat bercinta denganku, dan mereka menemukan, merasakan dan menikmati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan dalam masalah sex.

ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku. Siang itu saat aku sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi.

“Hallo, selamat siang Dany” suara perempuan yang manja terdengar.

“Hallo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.

“Namaku Lestari” kata perempuan tersebut mengenalkan diri.

“Maaf, Mbak Lestari tahu nomor HP saya darimana?” tanyaku menyelidik.

“Oya, aku temannya Via dan dari dia aku dapat nomor kamu” jelasnya.

“Ooo, Mbak Via” kataku datar. Aku mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bersama Ibu Muda. Via seorang sekretaris yang juga ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.

“Gimana khabar Mbak Via?” tanyaku.

“Baik, dia titip salam kangen sama kamu” jelas Lestari.

Sekitar 5 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Suara Lestari yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisik dari wanita tersbut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Lestari membuyarkan lamunanku.

“Hallo.. Dany, kamu masih disitu?” tanya Lestari.

“Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.

“Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?” tanyanya menggodaku.

“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Lestari tuh” celetukku.

“Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang menggoda.

“Dany, boleh kan kalau aku mau ketemu kamu?” tanya Lestari.

“Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati” jawabku semangat.

“Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya semangat.

“Terserah Mbak deh, Dany ngikut aja” jawabku pasrah.

“Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di excelso di Tunjungan Plasa” katanya.

“Oke, sampai nanti Dany.. Aku tunggu jan 18.00″ sambil berkata demikian, HP nya langsung off.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, tiba saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku membawa karena memang aku sering olahraga setelah jam kantor.

Tiba di TP, aku segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso seperti yang dikatakan Lestari. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini.

Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian.

Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang luLestarin putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku.

Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik rok mininya, membuat semakin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jika orang tersebut adalah Lestari yang menghubungi aku siang tadi.

Disaat aku membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

“Maaf, kamu Dany ya?” tanyanya sambil menatapku.

“Iy.. iyaa.. Kamu Lestari?” tanyaku balik sambil berdiri.

Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.

“Silahkan duduk Nggun” kataku sambil menarik satu bangku di depanku.

“Terima kasih” kata Lestari sambil tersenyum.

“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?” tanyaku.

“Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Dany” jelasnya.

“Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Lestari adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya. Lestari adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.

“Nggun, kamu kenal Via dimana?” tanyaku mnyelidik.

“Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun.” mulut mungil Lestari menjelaskan dengan penuh semangat.

“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.

“Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku selesai” jelasnya tanpa aku tanya.

“Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng” jelasnya kembali.

“Memang Mbak Lestari nginap dimana?” tanyaku.

“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.

“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.

“Ya sendirilah, Dany.. Makanya saat itu aku tanya Via” kata Lestari.

“Tanya apa?” tanyaku mengejar.

“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya” kata Lestari.

“Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu” lanjutnya.

Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mau tutup.

“Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?” tanya Lestari.

“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Lestari sendirian balik ke hotel” kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa. Aku dan Lestari bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Lestari menawarkan aku untuk masuk sejenak.

Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika aku berjalan di belakangnya.

“Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu” kata Lestari sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.

Mataku menyelidik, apakah benar Lestari sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Lestari, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.

“Dany, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Lestari sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Lestari, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Lestari yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya.

Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Lestari. Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali.

Aku berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya”sswaasshh..” suara air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.

“Oke Nggun.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi tubuh Lestari yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Lestari tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya tadi.

“Ma-Maaff.. Aku mau keluar Nggun” kataku gugup. Lestari tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat.

“Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku semakin berdetak kencang.

“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan” kataku.

“Berikan aku kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Lestari langsung mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.

Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Lestari. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang.

Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Lestari, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Lestari semakin naik.

Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari- nari di atasnya.

“Ooohh.. Dany.. Geelli..” desah Lestari.

Serangan bibirku semakin menjadi di leher Lestari, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang.

Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak- ledak, bibir Lestari yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku. Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang aku kenakan.

Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku.

Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara spontan.

“Ohh.. Nggun.. Aaakh” aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.

Lestari benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Lestari sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja.

Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat. Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik celana dalamku dari belakang.

“Gila.. Pantes Via puas, habis kontolmu gede seperti ini” kata Lestari memuji.

Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu celana dalam yang membatasinya akhirnya bisa lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Lestari yang sedang tertegun dengan besarnya kontolku. Kontolku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.

“Mmm.. Srup.. Srupp” mulut Lestari yang mungil mulai mengulum batang kontolku.

“Aakhh.. Nggun.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.

Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Lestari, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika kontolku benar- benar terlean dalam mulut Lestari, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung kontolku menthok pada dasar mulut Lestari.

“Sss.. Nggun.. Uhh” aku mendesah kenikamatan.

Lestari tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku. Sampai aku tidak kuat berdiri. Setelah Lestari puas dengan aksinya, Lestari bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku.

Kesempatan ini tidak aku sia- siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Lestari terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang memeknya yang memerah dan disekelilingi rambut- rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesir hebat.

Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir memek. Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati memeknya.

“Sss.. Danyy.. Nikmaat sekali.. Ughh” rintih Lestari.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Lestari yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam ke lubang memeknya.

“Daanndy.. Gilaa banget lidah kamu..” rintih Lestari.

“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.

Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang memeknya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya.

Paha Lestari dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Lestari merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya.

“OOhh.. Dany, aku nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.

Semakin Lestari merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya.

“Dany.. Danyy.. Ooogghh..” Lestari merintih panjang.

Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.

Lestari terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang memeknya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan orgasme yang didapat Lestari pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh Lestari yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Lestari dari belakang, kami berdua menghadap cermin.

“Ohh.. Dany..” Lestari mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya.

Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjukkananku bergerak menggesek clitoris Lestari yang sduah mulai basah kemabli.

“Danyy..” Lestari kembali mendesah.

Peralahan aku mengangkat kaki kanan Lestari dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Lestari hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Lestari dan sekali hentak.

“Bleesst..” kepala kontolku mengoyak memek Lestari.

“Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu” Lestari merintih.

Perlahan aku beregark maju mundur di lubang memek Lestari, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup di lubang memek Lestari. Sekali tekan “bless” seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Lestari dan bersama dengan itu, tubuh Lestari sedikit terangkat.

“Hekk.. Dany.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Lestari merintih kembali.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Lestari menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku.

“Dany.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh” pinta Lestari.

Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin menjadi. Aku merasakan sekali ujung kontolku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Lestari.

Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan kontolku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Lestari dan sesekali membantu pinggul Lestari utnuk berputar- putar.

“Dany.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh” tangan Lestari bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.

Beberapa saat kemudian Lestari seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Lestari semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding memek Lestari.

“Dany.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Lestari meminta. Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Lestari untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Lestari benar- benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.

“Danyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Lestari. Gerakan kontolku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Lestari semakin tak terkendali.

“Dann.. Ddy.. Aaammppunn” rintih Lestari panjang. Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan kontolku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit memek Lestari. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.

“Creek.. Crek.. Crek..” suara kontolku masih bergerak keluar masuk di lubang memek Lestari.

Aku semakin tidak peduli dengan Lestari yang sudah mendapatkan kedua orgasmenya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Lestari yang pada posisi pertama aku naikkan ke atas wastafel.

Posisi Lestari, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Kontolku yang masih tertancap pada lubang memeknya langsung aku hujamkan kembali ke lubang memek Lestari.

“Ohh.. Danyy.. kamu.. memang.. ahli..” kata Lestari sambil merintih. Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Lestari dan menekan tubuhnya supaya kontolku bisa lebih menusuk ke dalam lubang memeknya.

“Nggun.. memek kamu memang asyik banget” pujiku.

“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.

Lestari hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan kontolku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh memek Lestari dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa.

Permainan sexku benar-benar bisa diterima Lestari karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku. Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.

“Nggun.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.

“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Lestari merintih.

“Danyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Lestari.

“Iya Nggun.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.

Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Lestari semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.

“Dany.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh” rintih Lestari.

“Aku juga Nggun.. Oohh.. Nggun” aku merintih.

“crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri memek Lestari.

Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah memek Lestari. Setelah beberapa saat kemudian Lestari membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.

“Dany ternyata Via memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Lestari merintih.

“Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja” kataku merendah.

“Kamu luar biasa..” Lestari tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu.

Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Lestari yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut.

Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Lestari. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh tubuh Lestari, sesekali jariku yang nakal memilin punting Lestari.

“Ughh.. Dany..” Lestari merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah. Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Lestari seorang wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang.

Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi. Aku meninggalkan Hotel E.. Sambil menikmati sisa-sisa kenimatan yang sudah di tinggalkan oleh permainan tadi.

Cerita sex sahabat, foto hot terbaru, foto hot Jilbab terbaru, foto hot tante terbaru, foto sex mahasiswi, cerita sex terbaru, cerita sex three some, Cerita Sex Perawan, cerita sex pembantu nakal, cerita sex ngentot, cerita sex ABG, cerita sex Jilbab, kumpulan cerita sex perkosaan, cerita sex Janda, cerita sex Guru, cerita sex Lesbi, cerita sex Hamil, cerita sex pembantu, cerita sex Pelajar, cerita sex setengah baya, cerita sex dosen, cerita sex SMP, cerita sex pramugari, cerita sex Bertukar pasangan, Cerita Sex Suster Sange, Cerita Sex Pacar Sange, Cerita Sex Pasangan Gay

Subscribe to receive free email updates: