Suka Cerita Sex Cewek IGO

>
Web Khusus Dewasa Yang Berisakan Cerita Sex Hot Terbaru, Mesum, ABG, Ngentot, Tante, Janda, Sedarah, Mahasiswi, Selingkuh, Horny, Memek Perawan 18+, Jarum jam di tangan Santi menunjukkan pukul 11.00 malam, saat ia membuka gerbang kosan yang telah ditutup sejak 2 jam yang lalu. Ia berjalan kelelahan setelah seharian mengerjakan tugas kelompok bersama 3 temannya.

Suka Cerita Sex Cewek IGO

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

Santi adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi di salah satu PTN di wilayah Bandung. Saat ini ia tengah menempuh semester 6. Santi termasuk mahasiswi yang rajin dengan IPK di atas 3,5. Tetapi lain halnya untuk urusan asmara. Santi merogoh tas mencari kunci kamar kosannya. Saat itu penjaga kosan bernama Pak Warso menyapanya.

“Neng Santi. Baru pulang malam-malam begini?”

“Eh, Pak Warso.”, Ujar Santi dengan sedikit terkejut sambil menoleh, “Iya, Pak. Baru selesai ngerjain tugas di kosan teman.”

Pak Warso tidak lagi menjawab, Ia hanya menganggung sambil berjalan menuju pos jaga. Akhirnya Santi berhasil menemukan kunci di dalam tasnya. Ketika Ia membuka pintu, kamarnya terlihat gelap gulita, Ia baru teringat lampu kamar mati sejak pagi tadi sebelum Ia pergi.

“Pak Warso!” teriak Santi.

“Iya, Neng.” jawab Pak Warso sambil berdiri di depan pintu pos jaga.

Santi berjalan mendekat. “Pak, bisa minta tolong? Lampu kamar saya mati, tadi lupa beli.”

“Oh, bisa Neng. Warung di depan masih buka. Sini saya belikan.”

Santi mengeluarkan selembar uang 20rb. “Beli yang bagus ya Pak. Kembaliannya ambil saja.”

“Sip, Neng.”, Ujar Pak Warso sambil mengambil uang dan berjalan pergi.

“Oia, Pak. Tolong sekalian dipasang ya Pak. Langit-langitnya tinggi. Saya mau mandi, nanti langsung masuk saja. Pintunya ga dikunci.”

Pak Warso mengangguk sambil terus berjalan.

Pak Warso berusia sekitar 50 tahun. Pipinya yang tirus membuatnya terlihat tua. Selain menjadi penjaga kosan, Ia juga bertani di sawah belakang kosan. Itu sebabnya warna kulitnya terlihat sangat gelap kecoklatan. Santi memasuki kamar, menutup pintu, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu.

Ia membuka kaos dan jins yang dipakainya sejak pagi hari. Melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor. Dengan BH dan celana dalam Santi berjalan ke kamar mandi kemudian menyalakan keran air. Pintu kamar mandi ditutup. Santi melepas BH dan celana dalam, meletakkannya di ember yang khusus disediakan untuk pakaian dalam.

Ia mulai mengguyurkan air dari ujung kepala. Segar sekali rasanya ketika tetesan-tetesan air membasuh rambut, wajah, leher, pundak, dan payudaranya. Beberapa tetesan kecil menyentuh puting Santi yang berwarna merah muda. Ia kembali mengguyur tubuhnya, kali ini air membasuh perut, paha, dan bongkahan pantat Santi yang begitu mulus berwarna putih bersih.

Sedikit tetesan air dengan genitnya menjalar ke selangkangan Santi, menyapu kulit memek yang tembam, merangsek ke sela-sela memek seperti sebuah lidah yang ingin menjilat klitoris. Santi mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun cair.

Dioleskan sabun cair di dada dan payudaranya. Ia menggosok perlahan sambil mengelus-elus payudaranya. Tiba-tiba darahnya mengalir lebih cepat. Ada gelombang nafsu yang mulai menguak dari dalam diri Santi.

Tidak biasanya Ia menjadi nafsu karena sentuhan tangannya sendiri, mungkin karena sudah 1 bulan lebih tidak ada yang merambah tubuh indahnya. Elusan tangan kanan ke payudaranya mulai berubah menjadi remasan, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh memek yang sudah tidak sabar ingin dimanja.

“Mmpphhhh…” desah Santi keluar dari mulutnya.

Sudah lebih dari 1 bulan yang lalu Santi putus dengan Jaka. Laki-laki kedua yang pernah bersetubuh dengannya. Santi mengakui bahwa Jaka lebih pintar dalam urusan sex ketimbang pacar pertamanya. Dan itu yang membuat Santi selalu ingin bersama Jaka, hingga suatu hari Santi mengetahui ternyata jaka berselingkuh.

Mengingat kejadian perselingkuhan Jaka, seketika itu emosi Santi muncul. Nafsu yang melanda sebelumnya hilang begitu saja. Santi bersegera menyelesaikan mandinya. Ia membasuh sabun-sabun di tubuhnya. Saat ingin mengeringkan tubuh dengan handuk, ia baru tersadar handuknya tidak ada. Ia biasa melakukan hal seperti ini tidak membawa handuk ke kamar mandi.

Santi membuka pintu kamar mandi. Dengan sangat terkejut, ia melihat sosok seorang pria tua, berwajah tirus, berkulit coklat tua, sedang duduk di ranjang sambil melihat tubuhnya yang tanpa busana. Tubuh Santi kaku tak bergerak akibat syok, wajahnya memerah karena malu.

Sementara Pak Warso masih terus menatap Santi. Tubuh Santi yang masih basah terlihat kemilau akibat pantulan cahaya. Payudaranya membusung, meneteskan air tepat dari puting merah mudanya. Dari memeknya yang seolah mengintip Pak Warso terlihat mengucurkan air sisa pembersihan tubuh Santi.

Santi berusaha menguasai kembali tubuhnya. Setelah kesadarannya pulih, dengan cepat Santi kembali masuk ke kamar mandi. Menutup rapat pintu kamar mandinya.

“Ma… maaf Pak. Saya lupa handuknya. Bisa tolong ambilkan di meja?” minta Santi dengan suara gemetar. Klek.. Santi seperti mendengar suara pintu terkunci. Suaranya begitu samar hingga ia tidak yakin betul.

“Ini, Neng.” Ujar Pak Warso dari balik pintu kamar mandi.

Santi membuka sedikit celah kamar mandi, menjulurkan tangannya mengambil handuk dari tangan Pak Warso. Ia segera mengeringkan tubuhnya.

Santi keluar berbalut handuk – yang sialnya adalah handuk kecil. Handuk yang ia kenakan tidak mampu melilit seluruh tubuhnya. Ujung handuk ia pegang dengan tangan kiri, sementara sedikit celah memperlihatkan pinggul dan pahanya.

Dada Santi pun tidak tertutup dengan baik, belahan indah payudara dan sedikit tepian puting berwarna merah muda mencuat begitu menggoda. Handuk bagian bawah hanya menutupi sekitar 5 cm ke bawah dari memek Santi. Santi berjalan perlahan, mata Pak Warso tidak sedetik pun lepas dari tubuh Santi.

“Ee.. Neng, itu lampunya sudah saya pasang.” Ujar Pak Warso sambil berdiri memecah kebisuan.

“Iya, pakk..” jawab Santi pelan, “Maaf Pak, saya mau pakai baju.” Lanjut Santi, berharap Pak Warso sadar untuk meninggalkan kamarnya.

“Oh, iya Neng. Tapi saya boleh pinjam kamar mandi? Mau buang air kecil.” Pinta Pak Warso.

“Bukannya di luar ada pak yang biasa dipakai.” sergah Santi sedikit kesal.

“Kebelet Neng. Sebentar kok.” Dengan cepat Pak Warso masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Santi.

Santi mendengar kucuran air seni Pak Warso begitu deras. Segera ia mananggalkan handuk menggantinya dengan daster favoritnya.

Tak lama Pak Warso keluar. Berjalan menghampiri Santi.

“Neng Santi, ada yang bisa dibantu lagi?” Tanya Pak Warso. Sekarang ia telah berdiri tepat di depan Santi. Belum sempat Santi menjawab pertanyaan tersebut, Pak Warso mengelus rambut Santi.

“Bapakkk…” ujar Santi sambil berjalan mundur menghindari tangan kasar Pak Warso.

Pak Warso terus mendekati Santi, sementara Santi terus mundur menghindar hingga tubuhnya terbentur tembok. Pak Warso merapatkan tubuhnya ke Santi yang sudah terpojok.

“Pak, jangan pak.” Lirih Santi. Sementara tangan Pak Warso kembali mengelus rambut Santi yang wangi itu.

“Tenang aja neng. Itu neng Sasha juga lagi asik sama pacarnya. Kita jangan kalah dong.” Kata Pak Warso dengan tenang penuh keyakinan.

“Pak, tolong pak. Jangan. Saya teriak kalau bapak bagini terus.” Papar Santi penuh ketegaran di tengah posisinya yang tidak baik itu.

“Neng mau teriak? Lalu orang-orang datang. Saya diusir. Tapi besoknya saya ke sini sama temen-temen lho. Khusus buat Neng Santi.” Ancam Pak Warso penuh kemenangan.

Santi terteguh mendengar ancaman itu. Membayangkan dirinya dikroyok orang-orang sekelas Pak Warso. Mengerikan. Santi bukan termasuk wanita hipersex. Ketika ketakutan melanda pikiran Santi, Pak Warso melanjutkan kata-katanya.

“Sudah lah neng. Biasanya juga sama pacarnya kan. Kalau tidak salah udah lebih dari 1 bulan ga diservis ya neng? Sini sama bapak aja.”

Pak Warso terus meraba Santi, kali ini lengannya menjadi sasaran. Bulu kuduk Santi merinding ketika kulit putih mulusnya bersentuhan dengan tangan Pak Warso. Ditambah lagi kata-kata Pak Warso tentang aktivitas sexnya benar-benar membuat Santi malu. Wajahnya merah padam.

“Pak sudah pak. Jangan pak. Tolong.” Dengan wajah nanar Santi memohon.

Pak Warso menekan tubuh Santi ke bawah. “Isepin penis bapak ya neng.” pinta Pak Warso.

Dalam posisi berjongkok, Santi kebingungan harus bagaimana. Tentu ia pernah menghisap penis tetapi bukan dalam keterpaksaan seperti ini.

“Ayo neng. Turunin dulu celana bapak. Trus isep. Ga perlu saya kasarin kan supaya neng mau. Ato ga harus saya panggil temen-temen saya kan.” Pak Warso kembali mengancam dengan sikap begitu tenang.

Santi mulai menurunkan celana pendek Pak Warso. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitnya. Santi terus menarik hingga kaki Pak Warso, ia menatap celana yang telah terlepas tanpa melirik ke atas.

“Ayo neng, liat ke atas dong.” perintah Pak Warso sambil tertawa pelan.

Santi mengangkat wajahnya. Terkejut melihat sebuah penis yang sudah keras tidak lagi ditutupi celana dalam mengacung tepat mengarah ke wajahnya.

“Baa… pak ga pake celana dalam?” pertanyaan polos keluar dari mulut Santi.

“Itu ada di kamar mandi. Sama baju dalam kamu yang lain.” Jawab Pak Warso sambil terkekeh.

Pak Warso memajukan penisnya. Kepala penisnya menyentuh bibir Santi yang manis.

“Dibuka neng bibirnya.” Pinta Pak Warso.

Santi membuka mulutnya dengan penuh keraguan. Penis Pak Warso mulai masuk dengan perlahan ke mulutnya. Pak Warso mulai menggoyang-goyangkan penisnya menyodok mulut Santi, dengan kedua tangannya yang menggenggam kepala Santi.

Sementara itu kedua tangan Santi memegang kaki Pak Warso sambil berusaha melepaskan diri. Mphhh….. mpphhhh… penolakan Santi hanya terdengar seperti lenguhan.

“Ahhh…. Achhh… bibirnya enak banget neng. Ahhh.. terus neng.” Rancau Pak Warso sambil terus menggoyangkan pantatnya.

Berselang 2 menit kemudian. Pak Warso berhenti mengocok penisnya, tetapi ia membiarkan penis hitamnya tetap di dalam mulut Santi. Nafas Santi mulai terengah-engah.

“Neng, lidahnya mainin dong di dalam.” pinta Pak Warso, “Achh… iyaaahhh.. gitu neng… pinter bangettt.. achhhh….”

Lidah Santi bergoyang-goyang mengelus-elus penis di dalam mulutnya dengan lembut. Kepala penis Pak Warso selalu tersentuh lidah Santi. Sesekali ada hisapan yang Santi lakukan. Pak Warso semakir merancau menikmati penisnya dalam mulut Santi.

“Sudah Neng Santi. Saya ga kuat sama lidah neng. Ahhh….” Pak Warso mengangkat tubuh Santi. “Pacar neng untung banget dapetin neng. Cantik, mulus, jago ngisep penis.” Pak Warso mulai kembali mengelus lengan Santi yang tidak tertutupi.

“Pak sudah pak. haahhh… jangan dilanjutkan pak.” Keluh Santi dengan wajah memelas meminta menyudahi permainan Pak Warso dengan nafas terengah-engah. Pak Warso menyibakkan rambut Santi ke belakang, lehernya yang jenjang terbuka lebar. Dengan sigap Pak Warso mulai mencium lembut dan menjilat leher Santi. Sementara tangannya meraba perut Santi.

“Mpphhhh… pak, sudaahh.. ahh.. mpphhh..” Gejolak nafsu mulai melanda Santi, namun ia tetap berusaha menahannya sekuat tenaga. Pak Warso membalikkan tubuh Santi, ia menyibak rambut yang menutupi leher dan tungkuk. Pak Warso kembali menciumi sambil menjilat bagian sensitif Santi tersebut. “ahhh… pak hentikannn.. mmppphhhh.”

Pak Warso mendekatkan bibirnya ke kuping Santi.

“Neng Santi ini seksi sekali. Tadi saya intip dari etalase waktu neng mandi. Enak ya neng ngeremes tetek sendiri. Saya bantu ya sekarang.” Bisik lebut Pak Warso ke telinga Santi.

Mendengar bisikan itu Santi seperti kehilangan harapan. Dilihat tanpa busana, ketahuan ML, dan sekarang ia tahu Pak Warso melihat saat ia akan masturbasi.

“Saya remes ya neng teteknya.”

Jemari Pak Warso merambat menuju 2 payudara Santi. Saat jemari menyentuh payudara.

“Lho, ga pake BH, neng?!” Tanya Pak Warso dengan sedikit terkejut.

“Jangan-jangan?!” dengan cepat tangannya menyibak daster membuka bongkahan pantat Santi.

“Wah, si Neng bisa aja. Bilang ga mau tapi udah siap-siap gini.” Ledek Pak Warso.

“Kan, mau tidur pak.” Ujar Santi membela diri dengan percuma sambil membalikan wajah sementara jarinya tergigit di mulutnya.

Pak Warso sibuk meremas pantat, sementara tangan kirinya meremas payudara Santi. Posisi berdiri Santi yang sedikit menungging semakin membuat seksi tubuhnya.

“Paakkkk…”,

“Iya neng Santi”,

“Sudah ya mpphhh.. pakkk..”,

“Yakin neng?” jemari Pak Warso menyentuh bibir memek Santi.

“Achhh… paa..”. tangan Pak Warso menjulur ke wajah Santi, memperlihatkan jemarinya yang tadi menyentuh bibir memek Santi.

“Neng Santi, ko basah ya?” canda Pak Warso. Santi menatap Pak Warso sambil tersenyum malu. “Bapak jahat ih.” suara manja terlontar dari mulut Santi yang sebelumnya diisi penis Pak Warso.

Tangan Pak Warso kembali mengelus pinggul Santi. Sambil menciumi leher, Pak Warso berbisik,

“Neng Santi, mau dilanjutin ga ni?”,

“Mmmpphhh.. lanjutin apa pakkk?”,

“ngentot”,

“ih, acchhh.. bapakkk..”

tangan Pak Warso mulai meremas payudara Santi. “Iya pakkk.. lanjutinnnn paak.. aahhh..”

“Pakkk.. aku mau ciuman yah.” Pak Warso mendekatkan wajah.

“Mmpphhh.. pak, penisnya aku pegang yah.. aku suka banget sama penis bapak.” Bujuk Santi. Pak Warso dan Santi mulai saling berciuman. Lidah mereka saling melipat, bergesekan dengan lembut. Meningkatkan birahi keduanya.

“Mmpphhh…. Mmpphhhh… “Pak gendong aku ke kasur ya.”

Pak Warso langsung mengangkat Santi, merebahkannya ke atas kasur. Santi menapat Pak Warso.

“Pak, aku malu. Kayak cewe murahan.”,

“Ngga ko neng. Nikmatin aja.”, Pak Warso kembali melibas bibir Santi.

Mmpphhhh… desah Santi yang mulai tidak ditahan lagi. “Pak Warso. Mmphhh.. telanjangi aku. Mphh..”

Pak Warso mulai mengangkat daster Santi. Memek Santi yang tembam ditutupi rambut-rambut tipis tercukur rapih. Pak Warso tak henti menatap tubuh Santi yang terbuka perlahan, memperlihatkan keindahannya. Santi mengangkat tangannya.

Membiarkan daster favoritnya terlepas dari tubuh yang sekarang tidak tertutupi sehelai kain pun. Payudara Santi yang tidak terlalu besar membusung dengan puting menegang, seakan meminta dijamah. Pak Warso memulai kembali dengan menciumi dan menjilati leher Santi. Lenguhan terlepas dari mulut Santi. Darah mendesir lebih cepat.

Pak Warso menurunkan ciumannya ke payudara Santi. Menjilat turun di sisi payudara, berputar mengelilingi payudara Santi.

“eeuhhh.. pak, aku nafsu bangettt…” rancu Santi memohon Pak Warso meningkatkan agresivitas.

Pak Warso menjilat kecil puting Santi yang sudah sangat keras. Ia memberi kecupan kecil.

“Neng Santi, putingnya keras banget.” Ujar Pak Warso sambil menatap Santi yang sedang memejamkan mata.

“mmpphhh.. iya pak. Emut puting aku pakkk.. remesss…” pinta Santi.

Pak Warso mengemut puting Santi sambil memainkan lidahnya, sementara tangan kanannya merepas payudara Santi yang lain.

“aahhh… eemmmppp… enaakkk pakk..” Santi meremas rambut Pak Warso, menekan kepala Pak Warso ke payudaranya. “uughhh… pakk, mau ngentottt. Mauu penisll.. aahhh..” rancu Santi tak terkendali.

Ia melepas cengkraman dari kepala Pak Warso. Pak Warso mengangkat tubuhnya melepaskan mulutnya dari puting Santi. Ia mendekatkan diri ke wajah Santi. Penisnya yang keras mengacung tepat di wajah Santi.

“Tadi neng ga mau, bukan?” pancing Pak Warso.

Santi mendekatkan hidungnya ke ujung penis Pak Warso. Menyentuh tepat di lubang kecil penis Pak Warso. Ia menghirup perlahan aroma penis yang khas sambil memejamkan mata. Ujung hidungnya merambat ke pangkal penis, pipi Santi pun menempel ke batang penis Pak Warso.

“Sekarang aku mau pak. Sampe masuk penis bapak ke memek aku juga aku mau.” Nafas Santi mulai memelan, “aku emut lagi ya pak.”

Pak Warso merubah posisinya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan posisi terduduk. Santi menundukkan wajahnya mendekati penis dengan posisi menungging di atas kasur. Jari jemarinya yang manis mulai menyentuh lembut kulit penis Pak Warso. Digenggamnya penis dengan satu tangan. Santi mulai menggerak-gerakkan tangannya ke atas-bawah.

“aacc..chhh… eehhh.. aahhh nenggg…”

“Enak ya pakk..” ucap Santi sambil menatap genit ke arah Pak Warso.

“eemmmhhhh…” Santi menjulurkan lidahnya menjilat ujung kepala penis yang semakin mengeras.

Tak lama jilatannya berubah menjadi emutan dan hisapan di kepala penis dengan tangannya yang masih terus mengocok. Pak Warso terus mendesah semakin keras. Lidahnya bermain-main di dalam mulutnya, mengelus-elus kepala penis. Tiba-tiba Pak Warso bergetar kuat.

“aachhhhh….” Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya, cairan sperma meleleh dari dalam penis.

“mmpphhhh..” Santi masih mengocok penis dengan tangan kanannya, mulutnya masih diisi kepala penis Pak Warso menanti tetesan terakhir sperma. Ia melepaskan penis dari mulutnya, mengangkat kepalanya menghadap Pak Warso dengan wajah penuh senyum.

“Liatin sperma bapak dong, neng.” Pinta Pak Warso. Laras membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya yang dipenuhi cairan berwarna putih susu.

Santi kembali menutup mulutnya. Tidak segera menelan sperma, ia justru memainkan sperma itu di dalam mulutnya. Menikmati aroma dan rasa sekaligus sensasi tersebut. Glek… sperma Pak Warso menuju perut Santi. Santi menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan. Ia mendekat ke Pak Warso, melupat bibir penjaga kosannya.

“Seneng banget sih, neng?” Tanya Pak Warso sambil mengelus payudara yang tidak tertutupi apapun.

“Sperma bapak enak.” Ucap Santi dengan sedikit malu-malu sambil merebahkan tubuhnya di atas dada Pak Warso.

“Istirahat dulu ya neng. Nanti lanjutin.”

“Lanjutin apa pak?” Tanya Santi sambil melihat Pak Warso.

Tidak langsung menjawab, Pak Warso menggerakkan tangannya. Menyentuh bibir memek Santi, kemudian menyelusupkan jari tengahnya ke sela bibir memek. “lanjutin ini. Ngeringin memek kamu. Nih, basah.”

“ahhhh… mpphhhh…” eluh Santi sambil menggigit bibir bawahnya, “gak ah, pak. Malu aku ngentot sama penjaga kosan.” Ucap Santi sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di memeknya.

“Supaya neng mau harus gimana?” Tanya Pak Warso.

Perlahan paha Santi menjepit tangan Pak Warso, sementara tangannya mencengkram pergelangan tangan Pak Warso. Tubuhnya tidak ingin jejari Pak Warso lepas dari memeknya.

“Katanya tadi ga mau dilanjutin.” Protes Pak Warso.

“Aku binal ya pak?” Tanya Santi dengan wajah sayu.

“Neng Santi itu bispak. Bisa bapak entot kapan aja bapak mau.”

“aahhhh.. bapak jahat.. mmpphhh.. masukin jarinya pakk…”

“Lanjutin nanti ya neng. Istirahat dulu.”

“Bapak bilang yang mesum-mesum dulu dong.” Pinta Santi.

“Memek Neng Santi mau dijilatin nanti?” Santi mengangguk, “Dimasukin penis bapak? Kita ngentot.”

“Mau banget, pak” jawab Santi dengan berbisik.

“Sampai puas!” ucap Pak Warso ikut berbisik. Mereka kembali berciuman. Kemudian tertidur bersama

Pukul 03.00, Santi masih tidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, Santi merasakan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah ia sedang ‘mimpi basah’ atau tidak, tetapi ada eluhan-eluhan yang keluar dari mulutnya.

“Mmpphhhh… mmpphh…”

Santi mulai sadar di tengah tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi Ia semakin menyadari kenikmatan di sekujur tubuhnya. Membiarkan tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Santi tidak ingin membuka matanya, kemudian terbangun dari tidurnya.

Ia ingin menikmati tidurnya yang penuh kenikmatan. Lambat laun kesadarannya semakin menguat saat mendengar suara-suara kecupan. Santi mulai teringat bahwa Ia sedang tidur dengan Pak Warso tanpa busana yang menjanjikan kelanjutan permainan mereka. Santi membuka matanya untuk meyakinkan diri tentang apa yang dari tadi Ia rasakan.

“Pakkk… mmpphhhh.. curannggg..” ucap Santi sambil menggigit bibir bawahnya menatap Pak Warso yang sedang menjilat memeknya.

Pak Warso mengangkat wajahnya. “Neng tidurnya nyenyak banget. Bapak ga enak banguninnya.” Tangan Pak Warso mengelus-elus paha Santi. “Jadi bapak mulai aja duluan.” Ucapnya sambil tersenyum.

Santi membalas dengan senyum manis, kedua tangannya menjulur ke arah Pak Warso. Pak Warso mendekat, mendekap dalam pelukan Santi.

“Enak ya, neng. Kayak mimpi melayang-layang.”

“Mmm..” Jawab Santi dengan suara menggoda.

Mereka mulai bercumbu, dengan tangan saling meraba tubuh lawannya. Mmpphhh… hhmmmm…. Eluh masing-masing. Pak Warso mulai menurunkan kecupannya ke leher, dada, payudara, puting, perut, hingga ia kembali berkonsentrasi ke memek Laras.

Diawali dengan kecupan kecil. “mmpphhh.. pakkk…” kemudian jilatan panjang, menjilat seluruh bagian luar memek Laras. Laras mendesah semakin keras. Akhirnya Pak Warso memulai emutan di memek Laras, lidahnya menjulur masuk menjilat-jilat bagian dalam.

“aaacchhh… ennakkk pakk.. eehhhmmpphhh…”

Slurrppp… slurrppp.. jilatan, hisapan, dan emutan Pak Warso bersuara semakin keras. Tubuh Santi tidak sanggup menahan kenikmatan dari memeknya.

Ia mengangkat pantatnya, mendorong memeknya ke mulut Pak Warso yang sedari tadi menempel, seakan menginginkan lebih. Pak Warso paham betul, Ia mengangkat wajahnya, kemudian meletakkan jari jemarinya di bibir memek Santi.

“Haahhh… aahhh..” nafas Santi memburu, “Iya begitu pakk.. eemmppphhh…” Santi menengadahkan wajahnya sambil mendesah saat jari tengah Pak Warso menekan dan mengelus klitorisnya.

Pak Warso mendekatkan wajahnya ke Santi, Santi menyambut dengan ciuman begitu ganas. Nafsu telah menguasai tubuhnya.

Tangan Pak Warso sudah terjepit kuat paha Santi. Hanya jari jemarinya yang masih bisa bermain-main di memek Santi. Santi terus menggelinjang kuat dengan suara desahan yang tertahan akibat berciuman dengan Pak Warso, merapatkan tangannya di punggung Pak Warso.

“Acchhhh… Pakkk, enakkk.. mmpphhhh..” lenguh Santi melepaskan ciumannya. Pak Warso semakin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Santi dipenuhi nafsu.

Membayangkan seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah usia Pak Warso, dipenuhi nasfu ingin bersetubuh. Pak Warso mempercepat gesekan jarinya di memek Santi.

“Aaaaccchhhhh….” Desahan panjang Santi disertai tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku.

Pahanya mencengkram kuat tangan Pak Warso hingga tidak bisa bergerak. Cairan bening keluar dari memek Santi. Wajahnya meringis. Ia melonggarkan pahanya, melepaskan tangan Pak Warso.

Sesekali tubuhnya masih mengejang, sementara dari memeknya masih mengeluarkan cairan kenikmatan. Wajahnya masih dipenuhi ketegangan, hingga akhirnya senyum kepuasan menghiasi wajahnya.

“Enak banget, pak.” Ucap Santi dengan memek yang masih menetesnya cairannya.

“Iya, bapak suka liat kamu lagi nafsu begitu.” Pak Warso mendiamkan Santi untuk beristirahat sejenak.

5 menit berlalu, mereka berbincang-bincang tertutama mengenai pengalaman Santi bersetubuh dengan lelaki lain. Santi merasa malu membicarakan hal tersebut, tetapi karena nafsunya masih tinggi membuatnya tidak lagi peduli.

“Pak Warso ga nikah?” Tanya Santi sambil mengelus-elus penis Pak Warso.

“Ada yang muda-muda kayak Neng Santi buat apa nikah.” Jawab Pak Warso membiarkan penisnya tetap mengeras. Mendengar jawaban tersebut, Santi teringat Mbak Wulan dan 3 mahasiswi lainnya yang dulu menempati kosan ini.

“Mmm.. Pantesan Mbak Wulan sama yang lain dulu betah banget ya ngekos disini. Jadi gara-gara ini.” ucap Santi sambil mengocok penis Pak Warso, “Enak ya pak. Bisa ngentotin mahasiswi cantik terus.” ketus Santi.

Selain dirinya masih ada 2 mahasiswi yang saat ini menempati kosan tersebut.

“Apa Sasha dan Nadya pernah begini juga ya?” Tanya Santi dalam pikirannya.

Pak Warso merubah posisinya, jari tangannya menyentuh bibir memek Santi yang masih basah. “Udah ga sabar ya neng dimasukin penis bapak?” Santi hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak mampu menutupi kegembiraan atas pertanyaan Pak Warso.

Santi mengambil kondom di laci meja belajarnya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus penis Pak Warso kemudian mengulum, memastikan penis itu telah mengeras kuat. Kondom tipis dengan perlahan disarungkan ke penis Pak Warso. Santi tersenyum tipis, membayangkan kenikmatan yang akan didapatnya.

Pak Warso memposisikan diri di atas tubuh Santi. Dengan paha terbuka, Santi tidak sabar menanti penis memasuki liang memeknya. Kepala penis Pak Warso menempel dan menggesek-gesek bibir memek Santi.

“Neng, ga mau masuk nih. Mesti dibujuk dulu.” Ucap Pak Warso menahan jegolak nafsunya menyetubuhi Santi.

Santi paham maksud Pak Warso, Ia menggenggam pinggul Pak Warso. Tetapi bukannya langsung menarik pinggul tersebut agar penis Pak Warso masuk, Santi mengawalinya dengan raut wajah penuh nafsu.

“Pakkk… Masukin penisnya ke memek aku yah.” Ucap Santi dengan nada memohon, “Aku udah ga kuat. Pengen ngentot, pakk.” Santi mulai menarik pinggul Pak Warso. Nafsu Pak Warso meningkat mendengar permintaan Santi, Ia pun mulai mendorong penisnya. Penis Pak Warso mulai menjelajahi liang memek Santi.

“Uughhh.. Neng, enak banget memeknya. Mmpphhh..”

“Dorong terus pak. Masukin semuanya. Penis bapakk kerr..ass bangett.. mmpphhhh..” Ucap Santi diakhiri desahan.

Perlahan seluruh penis Pak Warso masuk ke dalam memek Santi. Mereka berdua bercium seperti sepasang kekasih.

“Ayo, pak. Kocokin ke dalem. Aku suka penis bapak.” Rajuk Santi.

Pak Warso tersenyum senang, kemudian mulai menarik penisnya.

“Mmpphhhh…” keduanya berdesah.

Pak Warso memulai persetubuhannya dengan tempo perlahan. Ia menarik dan mendorong penisnya perlahan untuk menikmati betul memek Santi yang masih sempit. Sesekali Pak Warso mendorong dalam penisnya, hingga Santi mendesah panjang. Perlahan Pak Warso meningkatkan kecepatannya menggesek memek Santi.

“Accchhhh… iya pak. Terus pak.. enakkk.. eeuuhhhh.. mmpphhhh.. penis bapak ennaaakkk…” Santi mulai merancau saat gesekan penis Pak Warso semakin cepat.

Nafas keduanya semakin menggebu.

“Memek neng sempit banget.. aaccchhhh… mmppphhhh…”

“Iya pakkk… teruss.. uugghhhh… kocok terus pakkk..” Pak Warso semakin cepat mengeluar-masukkan penisnya.

“Tengkurep neng. Aahhhh…”

“Iyah pakkk… accchhh… jangan dilepas pak penisnya.. enak bangettt…” Santi membalik tubuhnya tanpa melepas penis dari memeknya.

Pak Warso memandangi bongkahan pantat putih bersih dengan penisnya yang keluar-masuk memek Santi. Nafsunya menggila. Ia mengocok semakin cepat.

“Accchhhh, enakan pakee jari ato penis, nenggg?” Tanya Pak Warso dengan nafas menggebu.

“Penis… Santi suka pakkeee konn.. toll bapak.. aaaahhhh.. terus pak..”

Pak Warso mengangkat pinggul Santi, ingin Santi menungging. Pak Warso terus mengocok memek Santi yang semakin basah hingga terdengar suara kecipak air.

“Uuughhhh… ga kuat pakkk… aacccchhhhh.. oooghhhh…” Tubuh Santi bergetar, ada lelehan cairan keluar dari memeknya. Pak Warso menahan penisnya di dalam tanpa gerakan. Menidurkan Santi dalam posisi terkelungkup. Pak Warso menindih tubuh Santi, sambil menggoyang-goyangkan penisnya perlahan.

“hhaaahhhh… enak banget pak.” Pak Warso mengecup pipi Santi.

“Mau lagi neng?”

“Sampe bapak puas. Memek aku buat penis bapak.” Ucap Santi sambil mencium bibir Pak Warso.

Pak Warso mulai kembali mengocok memek Santi dengan penisnya. Tangannya menyelusup ke payudara Santi. Meremas kuat tetapi lembut. Nafas Santi kembali meningkat. Ia melirik kebelakang, melihat pantat Pak Warso yang hitam bergoyang naik-turun. Sementara pantatnya sendiri tertindih Pak Warso. Santi menjulurkan tangannya, mengelus pantat Pak Warso.

“Uuughhhh.. mmppphhh.. terusss pakk. Entotin akuuu..” rancau Santi sambil memejamkan matanya menikmati hujaman penis Pak Warso.

Pak Warso kembali mengangkat pinggul Santi. Menginginkan posisi itu kembali.

“aacchhh… pakkk udah mau keluuarr?” Tanya Santi dengan nafsu terus menggebu. “Iya neng.. accchhh… sebentar lagii…” Pak Warso mempercepat kocokannya.

Santi menggigit bantal di depan wajahnya. Menahan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Sementara tangannya meremas-remas kain sprei hingga sangat berantakan.

“Ooohhhh,,, ooogghhh…. Pakkk ga kuaattt. Mau keluar lagiii.. oouugghhhh…” lenguh Santi tidak mampu menahan diri.

“Iya, nengg. Bareng sama bapak.. aacchhhh…”

Pak Warso menekan dalam penisnya ke memek Santi. Spermanya keluar tertahan kondom yang dikenakan. Sementara memek Santi kembali mengeluarkan cairan bening. Keduanya melenguh bersamaan. Panjang. Terdengar penuh kenikmatan.

Santi kembali tertidur dengan posisi terkelungkup, sementara Pak Warso menindih di atasnya. Penisnya tetap berada di dalam memek Santi yang masih berkedut. Tubuh keduanya dibasahi keringat yang keluar dari pori-pori.

“Enak, neng?”

“Enak banget pak. Makasih ya.” Jawab Santi sambil mencium bibir Pak Warso.

“Bapak ke kamar ya neng.” Ucap Pak Warso sambil mencabut kondomnya kemudian membuangnya di tempat sampah.

“Iya pak. Aku mau langsung mandi. Ada kuliah pagi.” Jawab Laras.

Pak Warso segera mengenakan pakaiannya kemudian kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mencium Santi. Santi mengambil handuknya di atas rak. Menuju kamar mandi, menutup rapat pintunya. Ia melihat tumpukan pakaian dalam yang kotor. Celana dalam Pak Warso ada di sana. Santi meremas celana dalam itu.

Ia memikirkan apa yang baru saja selesai Ia dan Pak Warso lakukan. Memalukan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu menahan gejolak nafsu. Santi mendekatkan celana dalam itu ke hidungnya, teringat saat-saat hidungnya menyentuh ujung kepala penis Pak Warso. Santi tersenyum.

Cerita sex sahabat, foto hot terbaru, foto hot Jilbab terbaru, foto hot tante terbaru, foto sex mahasiswi, cerita sex terbaru, cerita sex three some, Cerita Sex Perawan, cerita sex pembantu nakal, cerita sex ngentot, cerita sex ABG, cerita sex Jilbab, kumpulan cerita sex perkosaan, cerita sex Janda, cerita sex Guru, cerita sex Lesbi, cerita sex Hamil, cerita sex pembantu, cerita sex Pelajar, cerita sex setengah baya, cerita sex dosen, cerita sex SMP, cerita sex pramugari, cerita sex Bertukar pasangan, Cerita Sex Suster Sange, Cerita Sex Pacar Sange, Cerita Sex Pasangan Gay

Subscribe to receive free email updates: